Fenomena Liqo


“Pacar gue kan anak LIQO-an”

Deg. Tentu saja aku kaget dengan ucapan teman SD-ku, yang dia katakan saat kami bertiga sedang ngobrol-ngobrol sambil mempersiapkan acara buka puasa sekaligus reunian SD. Awalnya sih ngomongin kesibukan masing-masing, terus ga tau kenapa jadi ngomongin masalah yang lain deh, pacar-lah.

“Oooo, udah kenal LIQO sejak kapan?!”, itu yang kemudian terlontar dari mulutku. Ya, aku cuma mau mastiin aja, udah berapa lama pacarnya itu ikutan LIQO atau pengajian-lah bahasa gampangnya.

“Udah dari SMA!, Lhin juga anak LIQO-an ya?!”, jawaban yang sungguh menakjubkan! Sudah LIQO dari SMA! Berarti,, kalo diliat dari umur pacarnya (sebut saja X) yang sekarang menginjak 23 tahun, kurang lebih sudah 3-5 tahun ikut pengajian.

“Iya” , jawabku singkat karena masih memikirkan hal itu. Sambil menganalisis, aku mencoba memprediksi; berarti umur LIQO seseorang tidak menjamin pemahaman seseorang terhadap Islam. Bukankah seharusnya berbanding lurus?! Aku kira orang yang udah ikut pengajian bertahun-tahun, pemahamannya makin bertambah. Ya, tapi mungkin aja itu hanya prediksiku yang salah, pasti ada faktor lain.

“LIQO itu di kelompok-kelompokin ya?! Jadi ngajinya cuma sama anggota kelompoknya aja, gw pernah liat tuh, kayak di SMA gw juga”, temanku yang lain, yang sedari tadi diam, langsung ikut nimbrung. Waduh,, jadi makin ngomongin LIQO nih. Ternyata mereka sudah menyadari keberadaan LIQO.

“Iya, emang di kelompokin ngajinya”, jawabku singkat. Abiz mau ngomong apalagi, nanti kalo di jelasin panjang lebar pun malah bikin mereka bingung lagi. Mereka kan belum masuk ke dalam system. Kalo kata dosenku, Pak Bakri, kita tidak akan tahu keadaan suatu system sampai kita memasuki system tersebut. Maksudnya di sini, mereka kan belum merasakan LIQO jadi belum begitu tahu tentang LIQO.

“Tau tuh cowok gue, LIQO-nya jarang-jarang. Ibunya aja sampe bilang, kamu dapet apaan dari LIQO?!”, bagus deh, jadi makin ngomongin LIQO-an nih. Sambil menunggu ucapan yang akan dilontarkannya kembali, aku mencoba menganalisis lagi; Oh, pantes aja bisa kayak gitu, orang LIQO-nya jarang-jarang, bisa dapet apa dari LIQO-nya.

“Yang dateng LIQO tuh 1-2 orang gitu, padahal sebenernya ada banyak anggotanya. Ya gitu deh, jadinya si X malez. Lagipula, ngadain LIQO-nya tiap malem minggu, tambah jarang dateng deh, palingan kalo lagi ketempatan, ya mau ga mau, orang pas LIQO-nya di rumahnya dia”, oh, ternyata LIQO-nya ga sehat toh. Yang menjadi analisisku sekarang adalah pemahaman akan Islam itu berbanding lurus dengan kehadiran seseorang dalam LIQO tiap pekannya. Gimana nggak?! Tiap pekan mengkaji Islam!

“Oh, ngajinya itu, ke rumah-rumah juga ya Lhin?! Giliran gitu?! Lhin dari SMA juga LIQO-nya?!, temanku bertanya dengan rasa ingin tahunya, tapi seperti menyelidik. Ya, mereka belum ikut pengajian sepertinya. Semoga mereka bisa ikut ngaji sepertiku. Rencananya sih aku ngajakin mereka reunian biar bisa kumpul-kumpul, sekalian kalo aku dah deket lagi sama mereka mau aku ajakin ngaji. Semoga aja mereka mau. Amin.

“Iya, Lhin dari SMA LIQO-nya. Ngajinya tuh giliran ke rumah-rumah anggota ngajinya, jadinya kita deket dan saling kenal satu sama lain, enak tau”, sekalian promosi nih maksudnya, biar mereka tertarik ikut ngaji.

“Ngajinya tuh malem-malem ya? Si X kalo LIQO malem minggu”, waw, sampe segitu taunya. Pacarnya LIQO tiap malem minggu.

“Kalo ikhwan sih biasanya emang malem, tapi kalo akhwat biasanya pagi atau siang”, aku mencoba membiasakan kata-kata ikhwan akhwat ke mereka, sepertinya mereka udah tau kalo ikhwan itu sebutan untuk laki-laki, akhwat untuk perempuan. Buktinya mereka tidak mempertanyakan itu.

“Keluarga si X pada anak LIQO-an, kakak sama adenya juga. Tapi, ya gitu sama aja kayak si X LIQO-nya. Si S, temen SMP kita, kan adenya si X tuh,, dia ikut LIQO dari SMAnya juga.”, temenku itu ternyata pacaran sama kakaknya si S toh.. Si S yang dulu pernah sekelas denganku, LIQO juga ternyata. Si S yang sering menyebutkan namanya dan mengaitkannya dengan tokoh kartun Shinichi Kudo, tapi nama depannya diganti sama namanya. Ga nyangka!! Subhanallah, teman-teman SMPku ternyata banyak yang sudah ikut ngaji. Ya, emang LIQO, zaman sekarang udah bebas-bebas aja mau dilakukan di mana aja, ga usah ngumpet-ngumpet kayak dulu, pas awal-awal ada LIQO. Sekarang kan udah era keterbukaan.

“Pas kemarin tanggal 12 september si S ulang tahun, kan gw dateng diajakin si X, pacarnya si S juga dateng ke rumah. Pacarnya itu temen SMAnya. Trus, temen LIQO-nya juga dateng, kalo ga salah cuma si T doank, temen SMP kita juga.” Oh, si T satu kelompok sama si S. Waduh, aku jadi tau deh kelompok LIQO mereka siapa aja, tapi hanya mengira-ngira aja, tamen-teman SMPku yang kebanyakan masuk SMA itu dan aktif di ROHIS.

“Pas si T dateng, pacarnya si S di suruh ngumpet. Takut ketauan sama si T.” , hah?! Ga salah denger kan?! Sampe segitunya menyembunyikan pacar dari temen LIQO. Ya iyalah, sebenernya si S pasti dah tau masalah pacaran tapi ya gitu. Ini sih hanya prediksiku aja, buktinya dia ga mau kalo pacarnya ketauan sama temen LIQO-nya. Dosa itu kan sesuatu yang kita lakukan di mana kalo orang lain tahu kita bakalan merasa ga enak atau malu. Ya, bisa disimpulkan sendiri-lah..

***

Mungkin, fenomena di atas adalah satu contoh dari sekian banyak fenomena LIQO yang terjadi di era keterbukaan ini. Fenomena LIQO atau tarbiyah yang berawal dari sekolah dan kampus, yang terus berkembang menjadi arus besar yang ikut menentukan gerak perubahan di negeri ini.

LIQO yang pada awalnya, banyak orang yang tidak suka dengan bentuk pengajian yang seperti itu, yang katanya berbeda dari pengajian pada umumnya. LIQO yang dulu menjadi agenda yang begitu amniah sampai-sampai harus pergi dan pulang ngaji sendiri-sendiri karena khawatir jadi bahan curigaan orang. Jika dulu, para pendahulu sulit untuk mencari orang yang di ajak ngaji, maka sangat berbeda pada saat ini. Saat ini, banyak orang yang ngantri ingin ngaji. Bersyukurlah karena masyarakat kini sudah menerima da’wah .

Bahkan saat ini, LIQO bukan hanya ada di sekolah ataupun kampus, tetapi juga di perkantoran, pabrik, masjid, organisasi dan berbagai perkumpulan di masyarakat. Bermula dari LIQO-lah, rijalud da’wah terbentuk. Orang-orang yang memiliki kesiapan untuk terjun langsung sebagai anashirut taghyir atau agen perubah di tengah-tengah masyarakat. Orang yang akan merubah masyarakat ke arah yang lebih baik yang tentunya harus memiliki kelebihan dan keistimewaan. Itulah yang harus di bentuk dalam proses LIQO ; kader yang berkualitas bukan hanya banyak jumlahnya.

Fenomena yang di ceritakan di atas adalah salah satu fenomena yang terjadi pada saat ini. LIQO yang seharusnya menjadi tempat merecharge kembali semangat-semangat yang mungkin sempat turun karena begitu banyaknya aktivitas di luar. LIQO yang seharusnya menjadi tempat curhat masalah-masalah yang ada. LIQO yang seharusnya menjadi tempat mengkaji Islam lebih dalam.

LIQO yang seharusnya menjadi tempat merajut ukhuwah. Tapi, apa yang terjadi saat ini?! Apakah kuantitas bisa mengalahkan kualitas?! Memang banyak orang yang ikut LIQO saat ini, tapi apakah hanya itu yang ingin di dapatkan tanpa memperhatikan kualitasnya. LIQO hanya sekedar datang, tatap muka, atau bahkan terkadang membolos LIQO karena ada hal lain yang dianggap lebih penting. Belum ada ketsiqohan antara murobbi dan mutarobbi.

LIQO seperti sebuah paksaan untuk mengikutinya atau hanya ingin sekadar mendapat label ikhwan-akhwat. Padahal bukan itu seharusnya tujuan LIQO, bukan label ikhwan-akhwat yang bakal di sandang, tapi membentuk orang-orang yang siap terjun mempertaruhkan harta, jiwa dan raga serta segala potensi yang ada di jalan Allah, seperti tergambar dalam Q.S At-Taubah ayat 11: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al- Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jula beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.”

Jangan juga kita malah men-judge bahwa orang yang ikut LIQO tapi dia masih berbuat yang tidak Islami, misalnya pacaran, kita malah menganggap LIQO gak ada apa-apanya. Ingat! Orang menuju suatu perbaikan butuh proses. Dan masing-masing orang punya proses yang berbeda-beda termasuk waktunya. Mungkin saja orang yang sudah ikut LIQO namun masih pacaran, dia sebenarnya sedang dalam proses untuk meninggalkan budaya pacaran. Bisa jadi, jadwal LIQO yang diagendakan setiap malam minggu menjadi solusi atas masalah ini.

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri ini dan saudara-saudaraku yang lain. Semoga kita termasuk orang yang dijanjikan surga oleh Allah. Amin. Teringat sebuah sms yang berbunyi: “Aku rindu zaman ketika halaqah adalah kebutuhan, bukan sambilan apalagi hiburan. Ketika membina menjadi kewajiban bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.“

Apakah kita sudah seperti itu?!

Jawaban itu ada di masing-masing diri kita.

Semoga bermanfaat!!

Never Ending Fight!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s