AKu Ingin Cuti Berda’wah !!


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Kusadari, tubuhku begitu lemah, mudah capek dan lelah. seringkali ketika bangun dari duduk, mendadak dunia berubah gelap, lalu sekonyong-konyong aku terjatuh. Roboh. Mungkin kurang darah. Entahlah, aku malas periksa. Bukan malas, tapi aku memang takut ke dokter, aku takut jarum suntik, obat, darah…Apapun yang berbau rumah sakit, aku tak suka! Aaah, aku memang lemah.. Namun, satu yang membuatku tetap bertahan. SEMANGAT! Semangat tholabul ‘ilmi, semangat mengamalkannya, semangat mendakwahkannya, semangat berfastabiqul khairat, semangat untuk meraih ridhoNya dan menggapai cintaNya. Ya Rabb…Jangan pernah Kau biarkan api semangat itu padam…amien!

Kuhampiri cermin yang menggantung di dinding kamarku. Di sana, ada seseorang yang tak asing lagi bagiku, namun hampir saja aku melupakannya, hampir saja aku tak mengenalnya. Kuperhatikan dirinya yang juga memerhatikanku. Kutatap ia dan ia pun balas menatapku. Ah, jasad itu, betapa sering aku mendzoliminya. Wajah itu, begitu lama tak kurawat dan kini tampak pucat. Tubuh itu, beberapa kali aku telat bahkan lupa memberinya makan, malas berolahraga. Sebegitu sibukkah aku hingga tak punya waktu untuk diriku sendiri?

“Lihatlah aku, semakin kurus saja! Lemah dan sering jatuh sakit.” Tiba-tiba orang di seberang kaca angkat bicara.

“Kau harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan amanah Allah untuk menjaga dan memeliharaku. Kau harus tanggung jawab!” lanjutnya dengan nada ketus. Raut wajahnya memerah. Jelas sekali bahwa dia sedang marah. Padaku? Ah, biar saja!

“Kau juga egois! aku punya kewajiban lain yang harus kutunaikan. Bukan hanya ngurusin kamu!” balasku tak kalah sinis. Huh! aku jadi kesal dibuatnya. Tumben tiba-tiba dia marah?! Padahal, setiap kali ku memandang wajahnya, seulas senyum manis yang selalu kuterima. Semangat dan optimis yang memancar dari dirinya. Tapi, tidak kali ini! Ia betul-betul marah! Matanya melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup. Nafasnya naik turun tak beraturan. Dan mulutnya, seolah ingin melumatku habis-habisan!

“Kenapa?! Kau ingin protes?? Silakan.” tantangku. Aku semakin jengkel dibuatnya. Wajahku kutekuk dan kepalaku seakan mengeluarkan asap

“Boleh aku bicara?” Tiba-tiba terdengar suara lain yang ikut dalam pertengkaran kami. Sayangnya, suara ketiga ini bukan malah membelaku, tapi justru membuat posisiku semakin terpojok.

“Aku juga ingin protes. Lihatlah aku, begitu kering dan ringkih. Akhir-akhir ini kau jarang menyiramnya dengan amalan yaumiyah. Tilawah, kau kurangi jatahnya. Qiyamullail udah jarang, karena kau lebih sering melembur sampai larut malam, dengan alasan ngerjain proposal lah, tugas kuliah lah. Ma’tsurat, kau bilang gak sempat. Alasanmu, sibuk syuting (syuro penting) yang terkadang bisa lima kali dalam sehari (melebihi jatah minum obat tuh!). Dzikkir pun cuma sisa-sisa waktu. Lalu mana jatah mengisi bateraiku? ‘Kencan pekanan’ saja tidak cukup bagiku! Kapan kau luangkan waktumu untukku?”

“Oh Rabb…Aku seperti terhempas ke dasar jurang yang terjal dan curam. Hatiku serasa tertusuk sebilah belati tajam. Ya Allah…ampuni hamba…Jasad telah terdzolimi. Ruhiyah ini juga! Aku telah merampas hak-hak mereka! Hamba telah berdosa…” batinku bergejolak.

Tubuhku lunglai, lemas, tak berdaya. Hujan di mataku begitu derasnya. Saat ini aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba datang suara lain yang tak kukenal,
“Kau begitu lemah! Rapuh! Di balik kobaran semangatmu, ternyata kau sangat keropos! kau lelah kan? Kau jenuh kan? Sudah…akhiri saja semua! copot gelarmu sebagai aktivis dakwah. Toh, masih banyak temanmu yang akan memperjuangkan ajaran Tuhanmu itu! kau bukan malaikat! Kau hanya manusia lemah berlagak kuat. Kapasitasmu sangat terbatas! Jangan sok tangguh gitu deeh…Sudahlah…lepas saja amanah-amanah dakwahmu itu! Bukankah ada amanah ortu untuk belajar dan lulus kuliah tepat waktu? Tidak inginkah kau merasakan hidup tenang tanpa beban? Nikmati saja dunia yang sementara ini, mumpung masih muda.”

Ya Allah…Suara siapa lagi itu? Kepalaku mendadak pening luar biasa. Pikiranku semakin kacau balau. Semraut! Sulit bagi otakku memilah mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung!

“Sudah…jangan bingung. Begini saja, kalau kau memang tak mau melepas gelar da’imu, mending kau minta cuti saja pada Tuhanmu. Toh, suatu saat nanti, jika keadaanmu sudah pulih, kau bisa kembali berdakwah dan bergabung dengan kawan-kawanmu yang sok suci itu.” lanjutnya.

Cuti? apa aku harus cuti dakwah? Aaaarrgghh….kenapa kepalaku semakin pusing. Kupaksa otakku berpikir tanpa memedulikan jeritan nuraniku yang berontak tak setuju.

“Mungkin saja dia benar. Aku memang sangat lelah. Aku jenuh dengan semua masalah yang menyerangku bertubi-tubi. Mungkin inilah puncak kefuturanku. Aku ingin merasakan tidur dengan lelap, sejenak saja! Tanpa beban, tanpa masalah! Ya, aku ingin cuti dakwah!” kata batinku mantap.

“Tapi, tunggu dulu! Pantaskah? Layakkah?” sambungku kemudian.

“Pantaskah aku meminta cuti pada Rabbku yang telah mengabulkan setiap do’aku dan memberi segala yang ku mau? Layakkah aku meminta cuti, sementara aku belum mempersembahkan kado terindah untuk dakwah? untuk Allah…Akankah kubiarkan segala yang kuperjuangkan menguap begitu saja? sia-sia? Sungguh, aku belum berbuat apa-apa! aku malu….aku adalah hamba yang tak tahu diri! Tak tau terima kasih! Oh Rabb…betapa rapuhnya diri ini. Baru sedikit ujian saja, aku mengeluh, menyerah, mundur dan ingin gugur!”

“Ya Allah…mengapa sampai terbesit pikiran ingin cuti dari dakwah? Padahal, belum tentu aku masih di dunia ini setelah masa cutiku habis. Siapa yang menjamin usiaku masih panjang?! Bagaimana jika dalam masa cuti, Allah memanggilku dan meminta pertanggungjawabanku?! Bekal apa yang akan kubawa? Lalu bagaimana jika aku terlena dan enggan kembali berdakwah? Astaghfirullah….Alangkah bodohnya aku! Mungkin iya, aku lelah, aku capek, penat, jenuh! Tapi, bukankah itu biasa?! Setiap orang pasti pernah merasakannya. Iman kan yaziidu wa yankus, kadang naik kadang juga turun. Mungkin inilah saatnya ia turun, bahkan mungkin sampai pada titik kulminasinya. Akibatnya, ruhiyahkiu gersang, jasadku letih. Wajar saja jika mereka protes. Akulah yang salah karena kurang bisa memanaj waktu. Akhirnya, jadi tidak tawazun dan berbuntut pada kefuturan yang teramat sangat. Tapi, ketika itu terjadi, hal pertama yang harus kulakukan adalah berusaha untuk bangkit kembali! Berbenah diri, menata hati, meluruskan niat, dan mencoba memungut kembali segala amal yang berserakan untuk kemudian kuperjuangkan! Sungguh, kereta dakwah ini akan terus melaju, meski tanpaku. Masih banyak generasi tangguh yang militansinya jauh lebih dahsyat dariku yang akan melesat bersamanya. Roda dakwah akan terus berputar meski aku keluar dari orbitnya. Takkan berkurang kemuliaan Dien ini meski aku mundur dari memeperjuangkannya. Dan jika semua itu benar-benar terjadi padaku (jatuh, mundur, dan gugur), maka akulah satu-satunya yang akan merugi! akulah yang rugi! Na’udzubillah….”

“Cukup sudah! saatnya kulemparkan jauh-jauh pikiran “aneh” yang sempat mampir di otakku. Cuti dakwah? Ah! tak ada istilah itu dalam kamus perjuanganku. Tak akan ada lagi bagian dari diriku yang kudzolimi. Sekuat tenaga akan kucoba untuk menyeimbangkannya (tawazun) dan memenuhi hak-haknya, tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lain. Ini tekadku! Semoga Allah tetap setia membimbing dan menuntun langkahku…”

Kututup gejolak jiwaku, dengan sebuah do’a,
“Yaa Muqoolibal Quluub, Tsabbit Quluubana ‘Alaa Diinika…”

Kubuka inbox HPku dan kubaca kembali pesan cinta dari saudaraku di jalan Allah beberapa waktu lalu,

Ada yang mengeluh,
merasa jenuh,
ingin gugur,
dan jatuh.
Ia berkata, “LELAH…!”
Ada juga yang lelah,
tubuhnya penat,
tapi semangatnya kuat.
Ia berkata, “LILLAH…!”
karena Allah,
ikhlaslah…

Cess..! Embun syurga seakan berjatuhan dan membasahi jiwaku yang kerontang…
“Maka, berlelah-lelahlah sekarang, bersakit-sakitlah saat ini, karena kenikmatan yang abadi InsyaAllah kan kita rasakan di jannahNya nanti…”

NB: Alhamdulillah…lelahku seketika lenyap seiring selesainya tulisan ini. Terimakasih kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang senantiasa mengingatkan kedho’ifanku sebagai hamba. Allah, aku semakin cinta…Segala puji hanya bagiMu…

*ketika terseok-seok ku langkahkan kaki di jalan yang terjal dan berliku. oh, Robb…kokohkan kakiku dan kuatkan pundakku dalam mengemban amanahMu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s