Ikhtilat Elektronikiah


ini dapet dari blog kawan
Silakan di baca dan semoga mendapat pencerahan dari sini…

Sebut saja nama akhwat itu Mentari. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia ini memenangkan award di angkatannya sebagai “TER-jaga”. Predikat itu memang wajar saja disandangnya. Hijab yang membalut tubuhnya dengan rapi, kata-kata yang dilontarkannya begitu tertata, lakunya penuh kesopanan, pandangan matanya jauh dari kesan “jelalatan”, dan sikapnya yang tidak berlebihan.

Secara fisik, Mentari terbilang menyejukan mata yang memandangnya. Setidaknya beberapa ikhwah sempat menjulukinya Mentari DiSas alias Dian Sastro (walaupun agak dipaksakan J). Namun, dengan segala kelembutan yang dimilikinya itu, tidak berarti Mentari memiiki kadar ketegasan yang minim . Itulah sebabnya, mantan Ketua Keputrian organisasi keislaman kampus ini menjadi inspirasi dan kantung curahan hati rekan-rekan muslimah yang lain. Hampir tak seorangpun laki-laki yang berani menggodanya. Jangankan untuk mengajaknya diskusi, untuk sekadar menegurnya saja tampak sangat segan. Terbukti dari berbagai pengakuan ikhwan-ikhwan rekan kerjanya yang gak berani macem-macem dengan akhwat yang satu ini. Dalam radius 10 meter, Mentari dapat membuat para ikhwan tiba-tiba sok cool dan jaim.

Benarkah se-terjaga itu? Ternyata tidak juga. Setidaknya demikianlah yang diakui sendiri oleh Mentari pada suatu ketika. Inbox message di email maupun friendster Mentari didominasi dengan pesan dari teman-teman ikhwannya. Mulai dari rekan sejawat hingga “senior dakwah”. Mulai dari yang misterius sampai yang terang-terangan. Mulai dari urusan umat sampai urusan pribadi. Mulai dari yang satu kampus sampai di luar kampus. Mulai dari pembahasan yang berbobot sampai yang kopong. Mulai dari taushiyah sampai rayuan. Mulai dari tawaran untuk bekerja sama sampai tawaran untuk berumah tangga bersama! Tidak hanya itu, dalam hitungan 10 menit, smile kuning yang menyala di samping ID-nya mampu mengundang beberapa ikhwan dalam satu waktu yang bersamaaan untuk mengajaknya personal chatting.

Mentari bukanlah seorang yang terbilang popular dan menonjol. Entah bagaimana ikhwan-ikhwan tersebut mengenal – dalam arti sebenarnya – Mentari. Sebagian dari mereka tidak Mentari kenal dengan baik bahkan tidak kenal sama sekali. Tidak ada sangkaan sama sekali mereka ekspresif mengungkapkan perhatiannya di dunia maya. Maklumlah, jika di dunia nyata, mereka begitu mampu menjaga sikapnya. Perlakuan demikianlah yang akhirnya membuat Mentari merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga izzahnya dengan baik. Tidak ada asap kalau tak ada api, kan?

Sahabat,

Saya yakin pastinya begitu banyak Mentari-Mentari lain yang mengalami hal yang sama (hayo, ngaku??). ya… Walaupun mungkin tidak “semeriah” kisah nyata di atas. Sebagian dari para aktivis yang begitu menjaga image-nya seringkali menyembunyikan kenakalannya di balik perkembangan teknologi. Berbuat aji mumpung seolah tak seorang pun bisa tahu. Bersyukurlah Allah berkenan menutupi aib kejahiliyahan para aktivis yang seperti ini. Semoga kebarohan dakwahnya tidak ikutan luntur kerena hal tersebut.

Ada baiknya kita memperhatikan sebuah istilah menarik, yaitu Ikhtilatul Elektronikiyyah J. Ya… ini sih memang buat-buatan aja supaya kita lebih berhati-hati. Tapi tunggu sebentar, coba teruskan membaca tinjauan berikut ini. Ikhtilat menurut bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu. (Lihat Lisānul ‘Arab 9/161-162). Adapun menurut istilah, ikhtilat adalah bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada suatu tempat. (Lihat Al-Mufashal fī Ahkāmil Mar’ah: 3/421).

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara demikian itu lebih baik bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzāb: 53).

Ayat ini walaupun diturunkan kepada isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam- namun mencakup pula untuk semua umat Islam, karena telah tetap dalam qaidah Syar’iyyah: Letak pelajaran adalah pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.

Sahabat,

Sadarkah kita ketika sedang asyik sendiri berchatting atau email-emailan dengan “si dia” di hadapan layar dunia maya, sejatinya kita sedang menjalin hubungan “berduan” dengan komunikan kita. Hanya Anda dan dia yang tahu. Memang ini secara fisik terpisah dan mungkin tidak seekstrim “itu”. Tapi setidaknya, waspadai gejolak hati yang bermain. Yang menjadi controller adalah kita sendiri. Jadi, ketika keimanan dalam diri seseorang meredup, maka hal apa yang menjamin tidak ada apa-apa di antara keduanya?

Muroqobatullah (Merasakan pengawasan langsung dari Allah Azza wa Jalla) menjadi sebuah keniscayaan yang perlu selalu dipelihara setiap dari kita. Ingatlah, Sahabat, bahwa Allah selalu bersama kita dimana pun kita berada. Dia mengetahui setiap lintasan pikiran, setiap lirikan mata, dan setiap goresan rasa di hati kita. Jangan sampai Allah mendapati kita sedang bermaksiat dengan segala nikmat yang kita terima dariNya. Kecil atau besar, semuanya bukanlah perkara gratis tanpa pertanggungjawaban.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guna menghindari ikhtilat al-elektronikiyah ini*. Berikut ini adalah tips dan trik yang bisa Anda lakukan – semoga bermanfaat.

· Pelihara rasa Muroqobatullah (dalam pengawasan Allah) setiap saat

· Hindari menceritakan perasaan atau urusan pribadi berduan dengan komunikan non muhrim, terutama saat sedang menggunakan fasilitas chatting

· Hiraukan dan atau alihkan pembicaraan dan atau stop saja pembicaraan yang menjurus ke arah pribadi saat chatting dengan lawan jenis non muhrim. Disukai dengan cara yang sopan.

· Bukan sekadar seleb blog! Pastikan tulisan tentang perjalanan pribadi Anda di jurnal elektronik (semisal blog) memiliki ibrah yang bisa diambil oeh pembaca, bukan curhatan belaka atau sekadar profile of you.

· Pelihara tahfizh Qur’an (hafalan Al-Qur’an) Anda agar tidak mudah terbuai oleh ayat-ayat cinta selain ayat-ayat cintaNya yang sangat mungkin Anda temui di dunia maya ini

· Jika Anda memiliki frindster atau multiply atau blogspot, dsb, undanglah senior atau murobbi atau orang yang Anda segani karena ilmu dan keimanannya, untuk bergabung dan berkunjung sehingga mereka dapat menasehati dan mengoreksi kekeliruan kita

· Jika Anda memiliki frindster atau multiply atau blogspot, dsb, undang juga adik kelas atau mad’u Anda untuk berkunjung dan bergabung agar Anda dapat merasa lebih hati-hati dan terjaga dalam memelihara keteladanan bagi mereka

· Kalaupun Anda memang sedang mencari pasangan hidup di dunia maya ini, ya… terserah saja sih… yang jelas, tidak semua info tentang “si dia” yang Anda dapatkan di sini dapat dipercaya. Ini adalah dunia penuh tipu. Saran saya, gunakan cara yang lebih berkah agar kehidupan rumah tangga Anda nantinya dapat penuh barokah selamanya dalam ridhoNya

· Ingatlah kekonyolan kita akan tercermin pada saudara kita (terutama mad’u). Kenakalan kita – walaupun tersembunyi di balik kecanggihan teknologi – hanya akan membuahkan noda pada kesucian jalan dakwah. Ingatlah selalu kepercayaan umat yang kita emban untuk memberikan kemashlahatan bagi mereka

· Manfaatkan benar kemudahan berkomunikasi saat ini untuk hal yang benar-benar bermanfaat

Berhati-hatilah “berlayar” di dunia maya dalam dunia fana ini. Berhati-hatilah dengan hati, termasuk ketika membaca blog ini…

Wallahu’alam bishowwab.

*berlaku juga bagi pengguna telepon selular yang suka “maen sms” atau suka “nelpon sampe puass”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s