Ketika Futur Menyerbu Qalbuku..


Beberapa hari ini hati saya menyusup, menciut dan menyudut. Menyendiri, sedih dan sendiri. Kiranya piala kaca terpecah-belah, maka kepingannya masih kalah menyedihkan dibanding lempengan hati ini. Entah karena kesibukan perkuliahan yang melelahkan, tugas dan amsayah yang kian menekan pundak, atau kondisi tubuh yang sedang sangat tidak bersahabat.

Futur.

Itulah istilah paling tepat yang saya pilihkan untuk menggambarkan keadaan saya belakangan ini.

Kefuturan tengah menghantui jasad dan raja yang menitahkannya (hati). Kerajaan hati saya tengah mengarat dan berkapur. Mengeras dan membeku bagai bangkai Titanic di Altlantik ssaya. Ah, entahlah. Ada apa dengan saya. Makan tak enak, tidur tak enak. Belajar terhambat, menulis tersendat. Tak ada ekstase. Kelindan yang dulu selalu saya rasakan ketika menulis tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Tanpa isyarat dan peringatan.

Ya, beberapa hari lalu saya tengah futur. Mungkin, antum, para pembaca , tak dapat menyangka bahwa saya ‘sedang begitu’, ‘bisa begitu’. Namun rupanya setelah saya berhasil meraih ekstase itu kembali, saya sadar sekali lagi.. Penulis juga manusia, bisa bersedih walau sering memotivasi. Bisa salah walau sering berdakwah. Lalu, ketika manusia memutuskan jadi penulis, adalah konsekuensi ia harus menyetarakan akhlak dan emosinya terhadap apa yang ditorehkannya.

saya beringsut melihat-lihat file-file tua di komputer. Arsip tulisan yang ada di blog tersayang. Banyak. Sudah lebih dari 100 tulisan saya. Walau belum seberapa dibandingkan tulisan penulis mahir, saya rasa itu sudah lebih dari cukup untuk mencambuk batin saya. Mengubah diri menjadi lebih baik. Atau sedikitnya tidak lebih buruk.

Tiba-tiba saja, saya merasa bahwa bukan saya yang menulis tulisan-tulisan di blog ini. Sebab tak banyak yang saya lakukan untuk memperbaiki diri sendiri. Baik sebelum atau sesudah mengajak manusia ke atmosfir yang lebih baik. Hmph, jika saya sendiri tidak berubah, untuk apa saya menulis?

Rapuh, bingung, marah, sedih, sendiri, dan terpuruk. Semua mengelindan merangkaikan jalinan buhul yang kuat. Buhul itu tersihir menjadi kefuturan yang mencuat ke permukaan.Yang paling parah adalah, ketika saya tidak dapat melembutkan hati. Kenyamsayan batin yang biasanya saya rasakan begitu kuat mengakar di rimbunan jalinan syaraf dan qalb ini, hilang.

saya bahkan tidak dapat menangis, seperti yang biasa saya lakukan saat sedang ada masalah atau bersedih. saya jadi diam dan murung. Berjalan lamban dan menunduk dalam. Sering saya merebah lemah, memandangi langit-langit di masjid kampus.

Resah.

Itulah yang mungkin turut mendampingi kefuturan ini. Sakit rasanya, ketika kita tahu kita sedang futur, tapi tak tahu bagaimsaya menangkis kefuturan itu. Macam terpenjara dalam ruang bawah tsayah yang gulita. Tanpa lilin. Tanpa kehangatan. Dan tanpa uluran tangan.

saya coba mereka dan menelisik. Ada apa dengan saya? Kenapa jiwa ini merasa begitu hampa dan hambar? Akhirnya saya merenung, berhari-hari. Berdiam diri dan melamun. Tidak melakukan apapun kecuali itu. Batin ini terasa sempit dan terhimpit. Persendian pun kian berlolosan.

Ketika malam telah meringkuk, saya bangun. Bersiwak dan berwudhu.

Astaghfirullah! Shalat malam kini terasa begitu hambar. Ekstase itu telah menguap. saya heran dengan diri saya sendiri. Kemsaya rasa lapang dan bahagia tiap kali saya menyapa-Nya? Kemsaya airmata yang selalu setia terbuang kala nestapa melanda? Ah, ALLAH, aku harus bagaimsaya…

Siangnya, saya ber-‘wisata’ ke perpus. Niatnya ingin menulis. Tapi keadaan membimbing saya ber-istighfar sekali lagi. Seharian saya di ssaya, tapi tak ada yang saya hasilkan. Satu paragraf pun tak ada.

Kemudian saya kembali ke kosan. Diam di kamar. Kembali menyendiri. Jiwa ini makin memekik minta dilapangkan. Namun entah kenapa masih saja gagal. Beberapa lama, teman sekos meminta saya membantu menginstal software. Lama saya main di kamarnya, membantu instalasi sambil menyelinginya dengan gurauan. Gagal. Rasanya masih sama, hambar.

Akhirnya sampailah saya pada setunggal nysaya, “Apakah ALLAH tengah meninggalkanku?”

saya tersungkur, gemetar lidah ini mengemis, “ALLAH.. Jangan pergi..”.

Maka tibalah saya pada usaha terakhir. Pulang seminar, Jumat sore, saya berdiam di masjid. Sambil main SCRABBLE, seraya menunggu maghrib menjemput. Hingga adzan berkumandang, suassaya hati masih sama, hambar. saya pun bersiap-siap melakssayakan shalat.

Ketika imam bertakbir, saya diam. Ikut bertakbir lirih. Lalu mendengarkan bacaan imam. Beliau membacakan surah at-Tiin di rakaat pertama, al-Kaafiruun di rakaat kedua. Dua surah yang insya ALLAH kita semua hafal. Namun kala itu, macam baru pertama saya mendengarnya. Iramanya begitu manis dan menggelitik. Melantunkan nada indah yang menepuk-nepuk bantalan hati dengan lembut.

Tis-tis.

Titik-titik bening itu mulai menetes. Perlahan-lahan membasahi pipi saya.

Ya. saya tak kuasa. Airmata itu kini telah tumpah. Meruah dan merebah. Entah mengapa tiba-tiba saja saya bisa menangis. Saat saya merasa ALLAH kembali peduli, kembali menyapa dalam shalatku. Dan sepanjang shalat itu, saya terus menangis. Pundak pun turut berguncang mengikuti irama tangisan.

Lepas shalat, saya masih ‘asyik’ menangis, sambil tercenung dalam hening. SubhsayaKa, yaa, ALLAH.. Engkau selamatkan hamba sekali lagi. Dari rasa sedih karena sendiri, dari rasa takut karena tersudut. Dari rasa hambar karena kelembutan yang terhempas.

Ah, Saudaraku, rupanya bukan ALLAH yang tak peduli. Kita saja yang mendramatisir situasi. Jika benar Ia tak peduli pada hamba-Nya, maka takkan ada lagi napas berhiruk-pikuk di dada ini. Tiada lagi detak-detak merdu di jantung ini. Itu hanya perasaan kita. Ntah itu putus asa, atau perasaan sendirian dan tak dipedulikan.

Sebab selalu ada ALLAH, Sang Mahacinta. Ia yang senantiasa hadir menjadi pelipur. Senantiasa ada merengkuh kita dalam tiap tarikan napas ini. Menjaga kita dalam tiap keterpurukan.

saya terngiang, kalimat yang rajin saya kutip, “InnALLAAHa ma’sayaa.” Firman-Nya yang agung. Lembaran mulia itu telah menjadi bukti tak terbantahkan. ALLAH ada, Saudaraku. Sekejam apapun keterpurukan itu menyerbu qalbu, ingatlah ALLAH, tempat kita menumpahkan segalanya. Ialah ALLAH, Haribaan pertama dan terakhir kita.

Saudaraku, jika antum tengah bersedih, jangan menysaya tiada yang peduli. Ada banyak yang menyayangi lewat cinta yang tak terucap. Ada banyak yang peduli lewat doa di belakang kita. Lalu cinta-Nya telah lebih dari cukup menguapkan segala penat dan kelelahan.

Cara ALLAH mencintai makhluk berbeda dengan cara manusia. Bukan dengan perhatian dan senyum manis. Bukan dengan ‘I Love You’. Bukan dengan apapun kecuali sapaan manis di tiap potret kehidupan kita. Ada rahasia di balik segala level semangat dan keputusasaan. Ada rahasia di balik segala bentuk kebahagiaan dan kesedihan. Itulah bentuk nyata kasih sayang ALLAH. Subhsayallah.

Bisa jadi, kefuturan itu menyerbu karena Ia rindu sapaan malam kita. Ia rindu gemiricik air wudhu yang kita sapukan di sela-sela jari kala sepertiga malam-Nya hendak beringsut. Bangunlah, Saudaraku.. Ialah ALLAH, Tuhan kita. Tempat kita menyembah dan memuja. Tempat kita berserah dan meminta. Hanya pada-Nya. Hanya pada-Nya.

Inilah noktah-noktah peradaban yang tak terbantahkan.

Kemutlakan kasih sayang ALLAH bagi hamba yang mengais cinta hanya dari-Nya.

Datanglah pada-Nya. Lalu nikmati dekap hangat-Nya..

Alhamdulillaah…

sumber : Merajut Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s