Sungai Penghapus Dosa


Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).
Shalat merupakan bentuk komunikasi langsung dengan Allah. Langsung, karena tidak boleh diwakilkan pada orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apa pun. Berbeda dengan puasa yang bisa diganti dengan fidyah pada kondisi tertentu, atau haji yang bisa dikerjakan oleh orang lain dengan syarat-syarat khusus. Shalat adalah sarana percakapan hamba dengan Penciptanya.

Sungguh indah kehidupan seorang Muslim. Begitu romantis hubungannya dengan sang Pencipta. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti Dhuha, Witir, Tahajjud, dan sebagainya. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.

Shalat, menurut Rasulullah saw seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Abu Hurairah meriwayatkan, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?”
Mereka menjawab, “Tidak ada!” Rasulullah bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus semua kesalahan,” (HR Bukhari Muslim).

Dengan redaksi yang hampir sama, Jabir meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).

Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran dan hanyut di sungai “penghapus dosa”. Tak ada kenikmatan, selain bermunajat kepada Allah lewat shalat.

Shalat juga dijadikan Rasulullah saw sebagai sarana istirahat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah saw berkata kepada Bilal, “Ya Bilal, aqimish shalah wa arihna biha (Hai Bilal, dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya).” Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah shalat (HR Ibnu Majah).

Pertanyaannya, shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai “sungai penghapus dosa” itu?

Pertama, shalat yang khusyuk.
Shalat yang khusyuk adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat “kesuksesan” dari Allah. Karena khusyuk dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim. Meskipun khusyuk itu relatif, namun berusaha untuk khusyuk dalam shalat adalah suatu keharusan. Sebab, dengan shalat yang khusyuk itulah, keberuntungan bisa diraih. Allah SWT berfirman, “Telah beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (QS al-Mukminun: 1-2).

Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah kemestian. Rasulullah pernah menyebutkan, ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyukan. (HR ath-Thabrani).
Tentunya untuk meraih kekhusyukan, ada kiat-kiat khusus. Di antaranya dengan memperbaiki cara berwudhu. Wudhu yang tidak sempurna, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan.
Rasulullah saw mengingatkan, “Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian memperbagus wudhunya, lalu mendirikan shalat dua rakaat yang benar-benar menghadapkan hati dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga,” (HR Muslim).
Selain itu, shalat yang khusyuk adalah “media” untuk menggapai ampunan Allah SWT. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku’ dan sujud dengan baik, kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya,” (HR ath-Thabrani).
Selain itu, kekhusyukan bisa juga digapai dengan menggunakan pakaian yang terbaik. Kita dapat merasakan sendiri, perbedaan ketika shalat dengan pakaian seadanya dan dengan pakaian yang bagus. Khusyuk juga bisa direngkuh dengan menyempurnakan shalat, melaksanakan sunnah-sunnahnya dan tidak dengan buru-buru.
Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ruku’ dan sujudnya tidak sempurna,” (HR Ahmad).

Kedua, dilakukan di awal waktu.
Shalat inilah yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya!’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa (lagi)?’ ‘Berbakti kepada kedua orang tua,’ jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’,” (Muttafaq ‘Alaih).
Dalam hadits lain Rasulullah saw menambahkan, “Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah melipatgandakan pahala kalian,” (HR ath-Thabrani).

Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas.
Amal adalah “jasad”, dan ruhnya adalah “ikhlas”. Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat sebagai orang yang rajin shalat hanya akan menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk “ikhlas” dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekadar “menggugurkan” kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan.
Allah menjelaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…,” (QS al- Bayyinah: 5).

Keempat, dilakukan secara berjamaah.
Shalat berjamaah sangat tinggi nilainya dan sangat besar pahalanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri,” (Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan lebih utama dua puluh lima kali dibanding shalat fardhu.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat,” (HR Abu Dawud dan Trimidzi).
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk,” (HR Muslim).

Dengan memperhatikan beberapa hal itu, kita berharap shalat yang kita lakukan bisa menghapus dosa-dosa seperti orang mandi di sungai yang bersih sebanyak lima kali sehari. Ia takkan menyisakan kotoran sedikit pun. Bersih.

One comment on “Sungai Penghapus Dosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s