Cinta Yang Memuliakan


Hati-hatilah agar tak terjebak dengan cinta yang membuat kita menjadi tak mulia. Disergapi dengan perangkap-perangkap syaitan. Dibumbui oleh bisikan-bisikan jahat iblis yang menginginkan kita terjerumus ke lembah nista. Cinta yang tak disadari telah menghancurkan kehidupan, menghempaskan masa depan, mencabik-cabik harapan dan menurunkan status kemuliaan kita sebagai hamba Tuhan.

Sesungguhnya, kumbang tidak akan pernah mengisap sari bunga yang belum mekar. Lebah pun demikian, hanya mengambil sari bunga yang sudah siap dipetik. Begitulah kehidupan cinta antara dua insan. Saling mengisi dan memberi ketika sudah tiba saatnya cinta itu dibingkai dengan syariat pernikahan. Apapun yang kita lakukan telah menjadi sesuatu yang halal dan mendatangkan pahala. Bukan cinta terlarang ala pacaran. Maka kalau kau menginginkan berpacaran, lakukan itu sepuas-puasnya setelah kau menikah dengannya.

Maka akhirilah pacaran yang justru membuat hidup kita tak produktif. Banyak waktu yang sia-sia hanya untuk memikirkan seorang. Bukankah banyak orang lain yang harus kita cintai. Kalau kita mencintai orang lain yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT maka Allah akan mencintai kita. Kehidupan memang seperti itu, memberi; dan efeknya akan kembali.

Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Ada banyak ilmu yang belum kita kuasai. Ada banyak keahlian yang belum kita gapai. Ada banyak peluang amal yang belum kita raih. Ada banyak orang yang perlu kita nasehati. Ada banyak masjid kosong yang perlu kita penuhi. Ada banyak orang yang belum pandai mengaji yang harus diajari. Ada banyak pengemis di jalanan yang harus disantuni dan diajari keahlian. Ada banyak lautan kebaikan yang belum kita seberangi. Ada banyak tantangan kehidupan yang belum kita daki. Ada banyak orang yang harus kita bahagiakan. Bagaimana mungkin masa muda yang singkat ini kita isi dengan pacaran yang jelas-jelas membuat hidup kita terpasung? Setiap hari memikirkan dia. Ketika makan memikirkan dia. Ketika berjalan memikirkan si dia. Ketika belajarpun memikirkan dia. Bahkan ketika sholatpun masih sempat-sempatnya memikirkan dia. Di mana cinta kepada Allah kau letakkan? Ke mana cinta kepada Rasullah kau hanyutkan? Akan ke manakah cinta kepada orang tua simpan? Dan hendak ke mana cinta kepada sesama kan kau terbangkan?

Ketahuilah, hidup kita amat bergantung kepada Allah. Udara segar yang kita nikmati setiap waktu semuanya adalah karunia Allah SWT. Mudah bagi Allah jika tarikan nafas kita tersendat dengan pilek atau mungkin membuat kita harus bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Sesungguhnya amat banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini. Bahkan lebih banyak dari hamba Allah yang harus kita cintai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s