Tadarus; Membaca Ulang Dialog Manusia Ketika Dibangkitkan dari Alam Kubur


Sebagai manusia kita semua akan menghadapi sebuah peristiwa besar. Pada saat itu kita akan dihadirkan di hadapan Allah. Peristiwa besar yang disebut dengan Kiamat ini tidak asing bagi setiap penyembah Allah.

Al-Quran dalam pelbagai ayatnya mengingatkan umat manusia tentang kejadian besar Hari Kiamat dan kembali hidupnya mereka. Al-Quran meminta kepada manusia untuk meyakini Hari Kiamat dan lebih memperhatikan amal perbuatannya. Karena pada hari itu amal perbuatan manusia akan menjelma di hadapan matanya dan akan diperhitungkan secara detil.

Dengan keheranan setiap orang akan menyaksikan amal perbuatan baik maupun buruknya. Mereka akan merasa rugi dan berandai-andai, seandainya saja ia terpisah jauh dari amal perbuatan buruknya. Perhitungan amal pada Hari Kiamat sangat detil sehingga para pendosa merasa ketakutan dan kaget dengan amal perbuatan buruknya dan berkata, “Aduhai…celakalah kami! kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya…” (QS. Kahfi:49)

Percakapan manusia yang baik dan manusia yang buruk merupakan satu diantara dialog al-Quran yang bisa diambil sebagai pelajaran. Ketika sangkakala ditiup, semua manusia keluar dengan segera dari kuburan mereka dan dihadirkan di hadapan Allah. Kepada mereka dikatakan, saksikanlah, kalian telah datang kepada Kami, beginilah pada mulanya Kami ciptakan kalian! Tapi kalian berpikir bahwa Kami tidak akan menetapkan tempat kembali bagi kalian. Orang-orang yang berpikir bahwa di dunia hanya diam sejenak, mengatakan, “Aduhai…celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).” (QS. Yasin:52)

Di alam akhirat manusia di bagi menjadi dua kelompok; kelompok orang-orang yang berbahagia dan kelompok orang-orang yang celaka. Mereka abadi dalam kehidupannya yang baru. Menurut al-Quran ini adalah hasil dari amal perbuatan kita ketika di dunia. Iman dan keyakinan yang suci, akhlak dan perilaku yang baik merupakan sarana kehidupan yang bahagia. Sebaliknya, ketidakberimanan, akhlak buruk, membunuh diri sendiri, kezaliman dan kefasadan merupakan sarana kesengsaraan dan kecelakaan manusia.

Pada Hari Kiamat, karena rasa ketakutan azab Allah, orang yang celaka berkata:

Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja(kalau kembali, pekerjaannya sebagaimana sebelumnya ketika di dunia)...” (QS. Mu’minun:99-100)

Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?

Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.” (QS. Ibrahim:44-45)

Pada saat itu, al-Quran menumbuhkan kemampuan untuk berpikir pada diri manusia dan mengingatkan seraya berkata, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan hanya main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. An’am:32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s