Jangan Menghakimi Kegalauan Orang Lain


Galau adalah fenomena yang sebenarnya tidak asing lagi di kehidupan sehari-hari. Ia tidak hanya melekat pada sosok remaja saat ini, bahkan orang yang sudah tua pun bisa merasakan dampak dari galau ini sendiri. Galau merupakan kondisi dimana ketika perasaan seorang insan bimbang, cemas, khawatir bahkan resah di suatu kondisi tertentu. Dan kondisi inilah yang membuat perasaan semakin labil.

Siapapun orangnya tentu pernah merasakan galau termasuk diri kita sendiri. Banyak cara untuk mengekspresikan rasa galau, bisa melalui status-status melankolis yang berbau persepsi, atau bahkan curhat kepada sesama teman tentang kondisi ataupun suasana hatinya.

Penilaian akan suatu kegalauan seseorang akan muncul manakala timbul suatu persepsi. Persepsi merupakan ekspersi penilain orang dari sudut pandang tertentu. Kadang kala kita begitu mudah untuk menilai seseorang galau, padahal bisa jadi diri kita sendiri yang sebenarnya sedang dilanda kegalauan yang teramat sangat.

Setiap orang berhak untuk merasakan galau, namun tidak semua orang berhak untuk menghakimi kegalauan orang lain. Maksudnya adalah ketika ada kondisi dimana seorang sahabat kita sendiri sedang dilanda kegalauan, maka tak seharusnyalah kita menghakiminya dengan menyebarkan informasi kegalauan sahabat kita ini kepada orang lain. Karena ketika kita sering menghakimi kegalauan orang lain, bisa jadi efek kegalauan itu akan menjadi boomerang untuk menyerang balik kepada kita.

Sebuah sindiran pun bisa jadi implementasi dari rasa ingin menghakimi kegalauan orang lain, biasanya sindiran ini berupa ungkapan penilaian kegalauan seseorang melalui bahasa kiasan yang tidak secara langsung ditujukan kepada objek galau itu sendiri. Menghakimi kegalauan orang lain tidak akan mampu memberikan nilai manfaat yang berarti bagi diri kita dan orang lain. Karena sungguh menghakimi kegalauan orang lain hanya akan berdampak buruk bagi yang menghakimi dan yang dihakimi kegalauannya.

Bukanlah tugas kita untuk melarang seseorang untuk galau, karena tugas kita hanyalah memberikan saran dan masukan agar galaulah pada tempatnya. Ya, galaulah pada tempatnya sehingga kita bisa menemukan jawaban atau solusi atas setiap kegalauan yang melanda kita.

Galau bukan untuk dihakimi, galau juga bukan untuk disebar luaskan agar orang berbelas kasihan kepada kita, galau pun bukan untuk didramatisir layaknya sinetron ataupun telenovela. Maka mulai saat ini stop dan berhentilah untuk menghakimi kegalauan orang lain, lihatlah ke dalam cermin diri kita, bisa jadi ada butiran-butiran bahkan serpihan kegalauan yang ada di dalam diri kita yang tidak kita ketahui.

Dan sebaik-baiknya tempat untuk mengobati kegalauan kita adalah dengan mengadukan semuanya kapada Allah SWT Yang Maha Melihat dan Maha Menatap setiap isi hati kita. Karena Allah lah yang punya obat atas setap kegalauan kita.

Don’t Galau Be Happy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s