Membangun ‘Jodoh’ Sang Da’i

Siapa bilang jodoh itu dicari? Menurut saya jodoh itu tidak hanya dicari, tapi ia juga dibangun. Paradigma jodoh adalah tentang mencari, mencari dan mencari, saya yakin, sampai nanti ketika ia benar-benar bertemu dengan pasangan sejatinya, hidupnya hanya akan disibukkan dengan proses kejar-kejaran untuk jodohnya. Tapi lain dengan jodoh yang juga dibangun, kalimat sederhana yang bisa menggambarkannya ialah ia terjaga, tertata, lalu nantinya akan jadi bercahaya. Indah bukan.

Tapi maaf, tulisan ini tidak sedang mencoba membahas jodoh. Tidak membahas perangkat-perangkatnya ataupun klausul prosesnya, tidak untuk itu semua. Biarkan bait awal ini adalah sebagai pengetahuan baru untuk melengkapi hari ini. Sebagaimana pengetahuan-pengetahuan lainnya yang senantiasa bisa kita cari dan dapatkan disekitar kita, dimana kelak pasti akan selalu jadi modal suatu saat nanti. Jangan pernah remehkan pengetahuan.

Berbicara tentang pengetahuan, teringat tentang sebuah cerita dari seorang pakar ekonomi yang pernah berkunjung ke negeri Tirai Bambu, Cina. Ia menuturkan bahwa ada sebuah monumen di dalam gedung museum Beijing yang disana tercatat dengan begitu tegas betapa Cina pernah mengagumi nusantara kita.

Continue reading

Fenomena Akhwat Facebook-ers

Suatu hari saat chatting YM, saat aku belum memiliki akun FB..

”Ada FB ga?”

”Ga ada. Adanya blog.

Tak berapa lama kemudian.

”Kok foto di blogmu, anak kecil semuanya siih?? Fotomu mana?”, tanya seorang akhwat yang baru dikenal dari forum radiopengajian.com.

”Itu semua foto keponakanku yang lucu.. ”, jawabku.

Suatu hari di pertemuan bulanan arisan keluarga..
“De’ kok di FBmu ga ada fotomu siih??”, tanya kakak sepupu yang baru aja ngeadd FB-ku.
“Hehe.. Ntar banyak fansnya..”, jawabku singkat sambil nyengir.

Suatu siang di pertemuan pekanan..

“Kak, foto yang aku tag di FB diremove ya? Kenapa kak??”, tanya seorang adik yang hanya berbeda setahun dibawahku..
Continue reading

Berbahagia Menjadi Lajang

Bagi seorang wanita pada umumnya, melajang dalam usia matang sungguh tak nyaman. Betapa pun, menikah adalah kebutuhan fitrah setiap manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini sangat bisa jadi menjadi penyebab guncangan jiwa yang bersangkutan. Ditambah lagi budaya dan paradigma yang berkembang di masyarakat yang memojokkan wanita lajang. Perawan tua, tidak laku dan kalimat-kalimat semacamnya menjadi label bagi mereka yang belum menikah. Belum lagi tuntutan dan pertanyaan dari keluarga dan tetangga kiri-kanan tiap ketemu yang bikin sebal,” Kapan menikah?”

Bagi seorang wanita normal, keluarga dan anak-anak adalah harapan dan cita-cita. Keluarga adalah tempat mengabdi yang membawa ketenangan. Anak-anak adalah amanah yang membawa kebahagiaan. Sangat wajar, jika setiap wanita menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya. Tapi masalahnya, menikah tidak bisa dilaksanakan secara sepihak. Menikah membutuhkan pasangan, yang dalam situasi, kondisi dan masa tertentu tidak mudah ditemukan. Karena kriteria yang tak sepadan, karena kuantitas yang tak terpenuhi, maupun karena takdir belum menentukan. Seperti pada masa sekarang, saat wanita lajang di usia matang hampir menjadi fenomena.

Lantas bagaimana?

Bersabar, menunggu dan bertakwa kepada keputusan Allah. Itu yang banyak saya dengar, dan saya sepakati pula. Hal ini barangkali hikmah diperbolehkannya poligami oleh kaum pria, dan mungkin sudah tiba masanya. Ini pendapat lain, yang saya juga tidak menolaknya. Namun, apakah hanya itu? Saya kira masih ada alternatif lain, yang lebih progresif bukan pasif dan bisa dilakukan secara mandiri oleh seorang wanita. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang muslimah perkasa di punggung Gunung Kidul. Wanita itu sangat aktif utamanya dalam kegiatan dakwah dan sosial.

Continue reading

Rumahku Tempat Sujudku

Imam Syafi’i, seorang imam terkenal, profesor fiqih Islam terkemuka yang sulit dicari tandingannya, bukanlah berasal dari rumah besar dan mewah. Ia lahir dari rumah bersahaja. Begitupun Imam Bukhori, penyusun hadits yang luar biasa jasanya bagi dunia, termasuk para mujahid Islam kaliber internasional. Mereka bukanlah anak-anak gedongan yang hidupnya dikelilingi fasilitas serba wah. Tidak! Mereka adalah anak-anak keluarga bersahaja yang hidup dalam rumah-rumah sederhana, tapi terpancar di dalamnya semangat penghambaan yang tinggi.

Rumah kita sekecil apapun luas bangunan dan tanahnya, seharusnya memang memiliki kemanfaatan ibadah bagi seluruh anggota keluarga. Artinya di samping rumah itu berfungsi sebagai tempat berlindung, setiap ruangnya harus merefleksikan fungsi utamanya sebagai sarana ibadah dan pusat tarbiyah robbaniyah bagi seluruh anggotanya. Itulah rumah yang aktif dan efektif alias rumah yang tidak tidur.

Sebaliknya, sebesar apapun rumah kita –dengan segala fasilitas yang serba glamour– jika tidak berfungsi sebagai “madrasah robbani” (pusat pendidikan) bagi seluruh anggota keluarga, rumah itu adalah rumah yang “tidur”. Rumah yang tidak berfungsi optimal sebagai pusat pendidikan yang utama dan pertama bagi seluruh anggotanya. Karena keberadaannya tidak efektif sebagai pusat pembinaan mental untuk melahirkan kader-kader Islam yang tangguh.

Continue reading

Untuk Siapa Wanita Bekerja

Haruskah seorang wanita bekerja? Bagaimana jika wanita tersebut telah menikah, bukankah suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu bagaimana bila suami belum dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga? Dan jika tidak bekerja, lalu buat apa wanita diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik dari laki-laki?!

Adakah pertanyaan tersebut pernah terbesit dalam benak kita, wahai saudariku? Dilema yang dihadapi kaum muslimah terutama setelah menikah dan mempunyai keturunan. Pilihan yang dirasa berat saat harus memilih antara pekerjaan dan keluarga. Karenanya banyak yang memilih untuk menjalankan keduanya.

Jika dilakukan survei apakah alasan wanita memilih tetap bekerja setelah menikah dan memiliki anak, beragam alasan yang muncul. Mungkin alasan yang terbanyak adalah karena faktor ekonomi. Tingginya kebutuhan keluarga dan harga yang terus meningkat tidak selalu berjalan searah dengan peningkatan penghasilan menyebabkan istri dituntut pula untuk membantu suami dalam mencari nafkah keluarga.

Selain masalah ekonomi, ada juga muslimah yang bekerja karena ingin mengabdikan ilmu yang telah didapatnya seperti dokter, guru dan lainnya. Dan mungkin ada juga muslimah yang bekerja untuk dapat meniti karirnya dibidang tertentu. Namun, selain alasan-alasan diatas, ada pula muslimah yang memilih tetap bekerja karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinitas mengurus rumah tangga atau karena anggapan bahwa dengan bekerja pergaulan dan statusnya lebih baik dibanding hanya menjadi ibu rumah tangga. Islam tidak melarang seorang muslimah untuk bekerja, bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk gandum. Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi Ayub tengah sakit, juga adalah contoh bagaimana muslimah mengambil peran dalam turut memenuhi kebutuhan keluarga.

Continue reading

Jihad Para Ibu Dalam Pandangan Islam

Islam mengajarkan bahwa kaum ibu merupakan fihak yang sangat istimewa dan tinggi derajatnya. Oleh karena itu kita sangat akrab dengan hadits yang menjelaskan keharusan seorang sahabat agar memprioritaskan berbuat baik kepada ibunya. Bahkan Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menyebutkan keharusan tersebut sebanyak tiga kali sebelum beliau akhirnya juga menganjurkan sahabat tadi agar berbuat baik kepada ayahnya. Jadi ibaratnya keharusan menghormati dan berbuat baik seorang anak kepada ibunya sepatutnya lebih banyak tiga kali lipat daripada penghormatan dan perilaku baiknya terhadap sang ayah.

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kita juga sangat akrab dengan hadits yang menyebutkan beberapa dosa besar dimana salah satunya ialah durhaka kepada kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut:

Continue reading

Kuasai Quran, Tidak sampai lebih 20 Tahun, Mau?

Dari pola bacaan yang dilakukan, Anda bisa mendapati kepribadian manusia yang beragam.

Pernah ada sebuah riset meneliti orang orang yang kreatif dan dinamis, juga penelitian yang sama dilakukan terhadap orang orang berkepribadian pesimis dan apatis. Setelah lewat studi yang panjang, riset itu menyimpulkan bahwa orang yang biasa membaca komik komik super hero bergambar sejak usia kecil akan berkepribadian aktif dan KREATIF. Sedang yang mengkonsumsi koran harian, berita berita politik dan info yang tak berguna maka mereka akan PESIMIS dan negative thinking. Menariknya…, karakter ini terbentuk bila kebiasaan ini dilakukan rata rata hingga 20 TAHUN!

Di zaman ini, banyak kita dengar manusia dapat menghafal Al Quranul Karim 30 juz dalam tempo singkat. Ada yang dalam 3 tahun, 2 tahun, 1 tahun dan malahan ada dalam tempo bulan saja.

Bila kita berkaca kepada Rasulullah Saw dan para sahabat yang mulia. Mereka menghafal Al Quran lebih dari 22 tahun. Tidakkah kita sadari?!

Inilah sebuah pertanyaan besar…., “Apakah Rasul Saw & para sahabat kalah cerdas dengan manusia sekarang hingga menghafal Al Quran sedemikian lama?!”

Tentu Anda sepakat dengan saya bahwa pasti mereka tidak akan KALAH.

Maka salah 1 hikmah Al Quran diturunkan sedemikian lama adalah agar Al Quran bisa dinikmati, direnungi, dan diamalkan sehingga SEKALI dibacakan, maka akan HAFAL untuk selamanya.

Jumlah ayat Al Quran adalah 6236 ayat. Jika dalam 1 hari ada 1 ayat yang Anda baca, pahami, renungi, amalkan dan hafalkan…, insya Allah tidak sampai 20 tahun Anda akan menjadi penghafal dan pengamal Al Quran. Al Quran yang menjadi WATAK. Al Quran yg menjadi KARAKTER diri muslim sejati.

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur angsur agar kamu membacakannya perlahan lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” QS. 17:106

Ayo semangat mencintai Al Quran…! (by .Bobby Herwibowo)

Semangat 10 November.. Sebuah Ibroh..

Tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan, sebuah hari untuk mengenang bahwa si lemah tak harus menyerah kalah pada si kuat. Bulan Oktober hingga November 67 tahun yang lalu, pejuang Surabaya habis-habisan bertempur melawan brigade Inggris yang bersenjata lengkap dan baru saja mengalahkan Jepang.

Inggris pun mengalami pukulan telak yang memalukan. Salah satu versi menyebutkan, komandan brigade Brigjen Mallaby tewas di mobilnya setelah digranat dua orang pemuda. Keduanya juga ikut tewas bersama Mallaby.

Tak hanya Mallaby, seorang jenderal Inggris lain juga tewas akibat pesawatnya jatuh. Brigjen Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya. Sebelumnya pesawat itu ditembaki oleh para mujahid Surabaya dengan tembakan kanon antipesawat peninggalan Jepang. Kehilangan dua jenderal dalam sebuah palagan adalah musibah besar yang belum pernah dialami Inggris, sang pemenang Perang Dunia II.

Sejarah mencatat, meski banyak dilupakan, bahwa semangat tempur para mujahid Surabaya dibakar oleh Bung Tomo. Seorang Muslim yang membangkitkan semangat jihad dengan kalimat “rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Seorang orator jagoan yang tak lepas dari seruan takbir saat mengobarkan semangat melawan Inggris. Sebuah bukti bahwa jihad melawan penjajah kafir adalah tradisi Muslim di negeri ini.

Continue reading