Semangat 10 November.. Sebuah Ibroh..


Tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan, sebuah hari untuk mengenang bahwa si lemah tak harus menyerah kalah pada si kuat. Bulan Oktober hingga November 67 tahun yang lalu, pejuang Surabaya habis-habisan bertempur melawan brigade Inggris yang bersenjata lengkap dan baru saja mengalahkan Jepang.

Inggris pun mengalami pukulan telak yang memalukan. Salah satu versi menyebutkan, komandan brigade Brigjen Mallaby tewas di mobilnya setelah digranat dua orang pemuda. Keduanya juga ikut tewas bersama Mallaby.

Tak hanya Mallaby, seorang jenderal Inggris lain juga tewas akibat pesawatnya jatuh. Brigjen Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya. Sebelumnya pesawat itu ditembaki oleh para mujahid Surabaya dengan tembakan kanon antipesawat peninggalan Jepang. Kehilangan dua jenderal dalam sebuah palagan adalah musibah besar yang belum pernah dialami Inggris, sang pemenang Perang Dunia II.

Sejarah mencatat, meski banyak dilupakan, bahwa semangat tempur para mujahid Surabaya dibakar oleh Bung Tomo. Seorang Muslim yang membangkitkan semangat jihad dengan kalimat “rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Seorang orator jagoan yang tak lepas dari seruan takbir saat mengobarkan semangat melawan Inggris. Sebuah bukti bahwa jihad melawan penjajah kafir adalah tradisi Muslim di negeri ini.

Sempat terjadi jeda dalam pertempuran Surabaya pasca Mallaby terbunuh. Panglima pasukan Inggris di Jakarta, Jendral Philip Christinson meminta Presiden Soekarno menekan para pejuang Surabaya agar menahan serangan. Hal itu agar brigade yang dipimpin Mallaby terlepas dari kepungan dan bisa mundur dari Surabaya. Jeda ini kemudian dimanfaatkan Inggris untuk mengkonsolidasikan kekuatan dan menambah dua brigade lagi dari luar Surabaya.

Pelajaran Berharga

Momentum pun berubah, pasukan Inggris yang terdesak kembali menekan pejuang Surabaya dengan kekuatan baru yang jauh lebih besar. Secara militer, Inggris menang dalam pertempuran di Surabaya. Para pejuang berhasil dipukul mundur keluar dari Surabaya dengan korban puluhan ribu orang.

Hal ini sempat dikeluhkan oleh Jenderal A.H. Nasution yang mengkritik strategi para pejuang Surabaya. Terus menerjang tanpa komando yang jelas membuat ribuan pejuang berguguran. Menurut Nasution, strategi “gelombang manusia” itu membuang-buang senjata dan perlengkapan yang sebetulnya bisa dipakai utk mempersenjatai dua divisi TKR lengkap.

Terlepas dari kritik dan pujian, ada tiga pelajaran yang bisa diambil dari pertempuran Surabaya. Pertama, semangat dan keberanian berjihad yang meluas di tengah umat bisa memukul lawan yang superior. Inilah yang paling ditakuti oleh kekuatan kuffar, ketika api jihad berkobar dan menyulut semangat seluruh umat. Ini pula sebabnya sejak dini api ini harus dipadamkan dengan program deradikalisasi, agar tak membesar dan membahayakan bagi orang-orang kafir.

Afghanistan dan Irak membuktikan sulitnya menumpas perlawanan berlandaskan jihad. Pasukan Salibis Barat terjebak di sana dan menghadapi pilihan sulit; terus di sana dan mengalami kebangkrutan karena perang berlarut atau mundur dan dipermalukan di hadapan dunia internasional.

Kedua, semangat dan keberanian memukul lawan tak cukup menjadi modal kemenangan. Manajemen strategi yang baik mutlak diperlukan untuk mengelola rangkaian pertempuran menjadi sebuah kemenangan perang. Kritik Nasution terhadap pertempuran Surabaya menarik untuk dicermati. Bagaimana potensi manusia, senjata dan logistik harus bisa dikelola dengan baik. Bukan asal menerjang dengan modal semangat berani mati.

Seni Memelihara Api

Ketiga, perang membutuhkan keteguhan untuk menuntaskannya. Memulai memantik api perang memang terlihat gampang, tetapi menuntaskannya menjadi sebuah kemenangan memerlukan pemeliharaan momentum. Dalam kasus Surabaya momentum muncul, bahkan diciptakan dengan pembunuhan terhadap Mallaby, namun ketika pasukan Inggris terjepit,  kemenangan tak dituntaskan.

Seni memantik dan memelihara api ini kerap diabaikan oleh mereka yang bersemangat untuk berjihad. Api dikobarkan dengan korek gas yang menyala, disiram dengan bensin yang cepat membakar, tetapi kayu kering terlalu sedikit. Kebanyakan umat ibarat kayu basah yang tak mempan disulut api jihad. Akibatnya api segera padam dan nasi di panci tak bisa matang.  Panas yang sesaat hanya membuatnya menjadi ngelethis, mentah tidak matang pun bukan.

Di sinilah seni bersabar dalam persiapan diperlukan. Sabar mengeringkan kayu sampai siap untuk dibakar hingga tuntas memasak. Sabar menyiapkan umat agar mampu memikul beban jihad yang berat dalam waktu yang panjang. Sabar dan berhitung untuk menghadapi musuh di saat yang tepat dengan niat menuntaskannya.

Inilah yang ditempuh oleh Rasulullah pada fase awal dakwah. Tigabelas tahun di Makkah dijalani dengan sabar, tak buru-buru melawan kezhaliman dengan potensi yang belum terkonsolidasi. Kesadaran ini juga dimiliki oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Simaklah kejeniusan Umar r.a. ketika beliau mengancam kepada Quraisy, “Tunggulah sampai jumlah kami 300 orang, niscaya kalian kami kalahkan.” Meski berani dan garang, Umar tahu berhitung. Muslim di Makkah terlalu sedikit dan tak memiliki basis militer memadai untuk menghadapi Quraisy secara frontal. Umar memahami sepenuhnya seni memantik dan memelihara api. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s