Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 1)


Setiap keluarga muslim sudah seharusnya menjadi tempat pembinaan iman bagi seluruh anggotanya. Ayah, ibu, suami, istri, anak dan bahkan pembantu rumah tangga sudah seharusnya mendapatkan pembinaan dan penggemblengan iman dalam setiap keluarga muslim.

Setiap muslim yang memahami dien Islam tentu menyadari bahwa keluarga adalah wahana pembinaan dan pendidikan pertama bagi setiap anak, sebelum ia mulai mengenal dan menerima pendidikan dari lingkungan sekitarnya dan sekolah. Pelajaran, nasehat, teladan dan pembinaan yang diterima seorang anak dari orang tuanya mendahului pelajaran yang ia terima dari teman-teman pergaulan dan guru di sekolah.

Dalam hal pembinaan dan perawatan iman anggota keluarga, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota keluarga.

Pertama, Long Life Iman Education. Orang tua memiliki kewajiban mengajarkan keimanan anak-anaknya dan membinanya, tidak saja saat si anak masih kecil sampai usia dewasa atau menikah, namun juga sampai detik terakhir kehidupan orang tua di muka bumi. Pembinaan dan perawatan iman dalam keluarga bersifat seumur hidup, tidak dibatasi oleh waktu tertentu layaknya usia wajib belajar.

Sebagaimana nabi Ibrahim dan Ya’qub yang di saat mengalami sakaratul maut, mereka mengecek pemahaman dan pengamalan iman anak-anak dan cucu-cucu mereka. Mereka hendak memastikan bahwa anak-anak dan cucu-cucu yang mereka tinggalkan memiliki iman yang kuat, tauhid yang lurus, dan komitmen keislaman yang sungguh-sungguh.

Nabi Ibrahim dan Ya’qub tidak membatasi pembinaan iman anak-anak mereka semasa usia balita dan anak-anak semata, atau usia puber semata, atau usia remaja dan sebelum menikah semata. Setelah anak dan cucu menikah pun, nabi Ibrahim dan Ya’qub tetap memantau, membina, dan merawat keimanan mereka. Hal itu mereka lakukan sampai detik-detik terakhir kehidupan mereka di muka bumi ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.”

Adakah kalian hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Ilah (Tuhan yang berhak disembah)mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 132-133)

Kedua, Setiap keluarga sudah seharusnya menjadikan keluarganya sebagai peserta aktif program pembinaan iman. Ayah, ibu, suami, istri, anak dan pembantu harus terlibat atau dilibatkan secara aktif dalam pembinaan iman. Ayah dan suami adalah orang yang paling bertanggung jawab atas terselenggaranya pembinaan iman dalam sebuah keluarga. Allah Subahanahu wa Ta’ala sendiri telah menyematkan tugas tersebut ke pundak mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Imam Ibnu Al-Jauzi Al-Baghdadi berkata, “Wahai orang-orang yang beriman buatlah pelindung untuk diri kalian dan anggota keluarga kalian dari api neraka. Pelindung diri sendiri adalah dengan melaksanakan perintah-perintah (Allah dan Rasul-Nya) dan meninggalkan larangan-larangan (Allah dan rasul-Nya). Adapun pelindung anggota keluarga adalah dengan memerintahkan mereka untuk melaksanakan ketaatan (kepada Allah dan rasul-Nya) dan mencegah mereka dari melakukan kemaksiatan (kepada Allah dan rasul-Nya).” (Ibnu Al-Jauzi, Zadul Masir fi Ilmit Tafsir,  8/312)

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu a’nhu berkata, “Didiklah mereka dan ajarilah mereka!”

Mujahid bin Jabr berkata, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berwasiatlah kepada anggota keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah!”

Qatadah bin Da’amah As-Sadusi berkata, “Engkau memerintahkan anggota keluargamu untuk menaati Allah dan engkau mencegah mereka dari mendurhakai Allah, engkau melaksanakan perintah Allah terhadap diri mereka, engkau memerintahkan dengan perintah Allah dan engkau membantu mereka dalam melaksanakan perintah Allah, dan jika engkau melihat mereka melakukan kemaksiatan maka engkau mencegah dan menghentikan mereka darinya.”

Adh-Dhahak bin Muzahim dan Muqatil bin Sulaiman berkata, “Seorang muslim wajib mengajari anggota keluarganya, kerabatnya, budak perempuan dan budak laki-lakinya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang atas diri mereka.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/167)

Ketiga, ibu atau istri memiliki tanggung jawab dan peranan sentral dalam pembinaan iman keluarga. Ia harus senantiasa memberi nasehat dan semangat kepada suaminya. Ia harus senantiasa mengajari anak-anaknya dengan ucapan, perbuatan, kesabaran, dan kasih sayangnya. Sebagai perawat dan penjaga rumah tangga yang lebih banyak bergaul dengan anak dibanding suami, ibu atau istri memiliki ikatan emosional dan keakraban yang sangat kuat dengan anak. Oleh karenanya, peranan ibu atau istri menggembleng keimanan anaknya akan sangat menentukan keimanan anak-anaknya baik saat mereka masih anak-anak maupun setelah mereka dewasa dan berpisah dari orang tua.

Rasulullah SAW memerintahkan para pemuda untuk menikahi wanita muslimah yang tingkat pemahaman dan pengamalan Islamnya baik, karena istri atau ibu adalah guru pertama bagi pendidikan iman anak-anak. Allah Subahanahu wa Ta’ala mengisahkan bahwa kelahiran anak-anak yang shalih dan shalihah sangat dipengaruhi oleh sosok ibu yang mukminah dan shalihah. Sosok nabi Ismail diasuh oleh seorang ibu yang mukminah dan shalihah, Hajar. Sosok Maryam diasuh oleh seorang ibu yang mukminah dan shalihah, istri Imran. Dan sosok Isa bin Maryam diasuh oleh ibu yang mukminah dan shalihah, Maryam binti Imran.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ (33) ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (34) إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36)

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Makdis). Karena itu terimalah nazar itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan — dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan—. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran [3]: 33-36)

Bersambung insya Allah

Sumber: Buku “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman” hlm. 319-327, penerbit Granada Mediatama, Surakarta, cet. 2012 M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s