Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 2)


Bagaimana mengefektifkan peranan keluarga sebagai wahana yang keempat adalah, membina dan menggembleng keimanan bukan hanya tanggung jawab ayah atau suami dan ibu atau istri. Anak-anak pun memiliki kewajiban yang sama terhadap saudara mereka, bahkan terhadap ayah dan ibu mereka. Jika orang tua belum memahami Islam secara benar, anak memiliki tanggung jawab mendakwahi dan mengajari mereka dengan cara yang baik. Jika orang tua masih melakukan aktifitas-aktititas syirik, kufur, atau kemungkaran, maka anak wajib meluruskan dan mencegah mereka dengan cara yang baik.


Allah Ta’ala berfirman,

وَٱذۡكُرۡ فِى ٱلۡكِتَـٰبِ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۚ إِنَّهُ ۥ كَانَ صِدِّيقً۬ا نَّبِيًّا (٤١) إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ يَـٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِى عَنكَ شَيۡـًٔ۬ا (٤٢) يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى قَدۡ جَآءَنِى مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَمۡ يَأۡتِكَ فَٱتَّبِعۡنِىٓ أَهۡدِكَ صِرَٲطً۬ا سَوِيًّ۬ا (٤٣) يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّيۡطَـٰنَ‌ۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَـٰنِ عَصِيًّ۬ا (٤٤) يَـٰٓأَبَتِ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ۬ مِّنَ ٱلرَّحۡمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيۡطَـٰنِ وَلِيًّ۬ا (٤٥)

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam [19]: 41-45)

Kelima, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas proses pembinaan iman istri dan anak-anak, seorang ayah atau suami dituntut untuk membekali dirinya dengan ilmu yang benar, sekaligus memberi ketauladanan dengan perbuatan nyata. Seorang ayah atau suami wajib menyisihkan sebagian waktunya untuk menuntut ilmu dien Islam dengan menghadiri majlis-majlis taklim, membaca buku-buku keislaman, dan bertanya kepada para ulama dalam perkara-perkara yang belum ia mengerti. Dengan adanya bekal ilmu dan ketauladanan perbuatan inilah, seorang ayah atau suami mampu menjalankan tugasnya sebagai pendidik keluarga.
Dalam hadits shahih dijelaskan,

Dari Abdullah bin Umar radhiallau ‘anhu bahwasanya ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia pimpin. Seorang kepala negara adalah dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia pimpin. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia pimpin. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia pimpin. Seorang pembantu (dalam lafal lain: budak) adalah pemimpin dalam harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia pimpin.” (HR. Bukhari no. 2409 dan Muslim no. 1829)

Dari Malik bin Huwairits radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kami adalah para pemuda yang sebaya. Kami tinggal selama dua puluh malam (belajar di masjid Nabawi) pada beliau. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang lembut perasaannya. Ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa bahwa kami telah rindu kepada keluarga kami, maka beliau menanyakan kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan, maka kami pun memberitahukannya kepada beliau. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, hiduplah bersama mereka lagi, ajarilah mereka dan perintahkanlah mereka (mengerjakan hal-hal yang telah kalian ajarkan kepada mereka)!” (HR. Bukhari no. 631 dan Muslim no. 674)

Keenam, materi pembinaan iman dalam sebuah keluarga mencakup semua ajaran Islam secara kaafah, baik materi tauhid, ibadah, akhlak maupun mu’amalah. Pembinaan iman tidak terbatas pada pengajaran baca-tulis Al-Qur’an dan shalat semata, meski keduanya juga sangat penting dan wajib ditanamkan sejak usia dini. Pembinaan iman harus memuat materi tauhid yang memahamkan anggota keluarga akan kewajiban menujukan semua bentuk ibadah kepada Allah semata, menjauhi segala bentuk thaghut yang diibadahi selain Allah, penanaman rukun Islam dan rukun iman serta pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan iman harus memuat materi ibadah yang memahamkan anggota keluarga hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari seperti shalat lima waktu, shalat rawatib, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, shaum Ramadhan dan shaum sunah, zakat fitrah, dzikir pagi dan petang, doa dan dzikir dalam kegiatan harian; sekaligus membiasakan anggota keluarga untuk menjaga ibadah-ibadah mahdhah tersebut dengan istiqamah. Jika terdapat anak perempuan maka harus dipahamkan dan dibiasakan memakai pakaian yang menutup aurat sejak usia tamyiz.

Pembinaan iman harus memuat materi mu’amalah yang memahamkan anggota keluarga akan hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan transaksi ekonomi sehari-hari dengan tetangga dan anggota masyarakat sekitarnya, seperti jual beli, hutang-piutang, barter, sewa-menyewa, dan riba.

Pembinaan iman harus memuat materi akhlak yang memahamkan anggota keluarga akhlak-akhlak mulia yang harus dilaksanakan dan akhlak-akhlak tercela yang harus ditinggalkan. Baik akhlak kepada Allah, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Qur’an, orang tua, anak, saudara, pembantu, tetangga, kerabat, teman pergaulan, teman sekolah, guru maupun anggota masyarakat lainnya.

Pembinaan iman harus memuat materi dakwah yang memahamkan anggota keluarga akan kewajiban amar ma’ruf, nahi munkar, dan dakwah dengan cara-cara yang bijaksana dan atas dasar ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬ (١٣) وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ (١٤) وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِى مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ۬ فَلَا تُطِعۡهُمَا‌ۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِى ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفً۬ا‌ۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَىَّ‌ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُڪُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (١٥) يَـٰبُنَىَّ إِنَّہَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ۬ مِّنۡ خَرۡدَلٍ۬ فَتَكُن فِى صَخۡرَةٍ أَوۡ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ أَوۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِہَا ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ۬ (١٦) يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ (١٧) وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ۬ (١٨) وَٱقۡصِدۡ فِى مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَ‌ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٲتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ (١٩)

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman [31]: 13-19)

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡہَا‌ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقً۬ا‌ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ‌ۗ وَٱلۡعَـٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ (١٣٢)

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha [20]: 132)

Ketujuh, tidak semua ayah dan ibu mampu mendidik dan mengajarkan kepada anak-anaknya baca-tulis Al-Qur’an, materi tauhid, ibadah, akhlak, dan mu’amalah. Baik karena faktor kesibukan mencari nafkah, keterbatasan ilmu agama, maupun faktor-faktor lainnya. Hal ini bisa disiasati dengan menyediakan buku-buku, majalah-majalah, kaset-kaset atau CD-CD materi agama Islam karya para ulama Islam yang telah dikenal luas kelurusan akidah, kemuliaan akhlak, kapabilitas ilmu, dan keistiqamahan amalnya.

Selain itu, orang tua selayaknya mengajak anak-anaknya untuk menghadiri majlis-majlis taklim. Jika hal itu sulit dilakukan karena jauhnya majlis taklim atau tiadanya majlis taklim di daerah setempat, alternatif lainnya adalah mendatangkan ulama atau ustadz pengajar ke rumah dan mengundang orang tua dan anak-anak tetangga untuk menghadiri pengajian di rumah, sehingga manfaatnya bisa dipetik oleh masyarakat di lingkungan sekitar.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwasanya kaum wanita berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Kaum laki-laki mendominasi kami dalam hal menghadiri pengajian Anda, maka tentukanlah satu hari untuk kami agar Anda bisa mengajari kami!” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan untuk mereka satu hari khusus. Beliau mendatangi mereka pada hari tersebut, memberi mereka pengajian dan memerintahkan mereka beberapa hal.” (HR. Bukhari no. 101 dan Muslim no. 2633)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya beberapa orang wanita dari golongan Anshar berkata, “Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kami tidak bisa menghadiri pengajian Anda bersama kaum laki-laki.” Maka beliau shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jika begitu, tempat pengajian kalian adalah rumah fulanah.” Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu datang dan memberi pengajian untuk mereka.” (HR. Ibnu Hibban no. 2941 dan An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 5867, shahih menurut syarat imam Muslim)

Sumber: Buku “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman” hlm. 319-327, penerbit Granada Mediatama, Surakarta, cet. 2012 M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s