Bila demikian, Menikahlah Ukhti..!

Ketika usia sudah melewati angka dua puluh, seorang wanita biasanya selangkah lebih serius memikirkan tentang pernikahan dan rumah tangga. Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menyongsong kehidupannya bersama pendampingnya kelak. Mulai dari mengikuti seminar pra-nikah, membaca buku-buku bertema pernikahan dan keluarga, belajar memasak sampai melakukan program diet. Semua persiapan yang sangat mulia dan insya Allah tidak ringan perhitungannya jika dilandasi kerinduan akan wajah Allah dan keinginan menghuni jannatunna’im.

Continue reading

Ketahuilah Kesiapan Dia!

Meski hasrat berkeluarga sudah begitu menggebu. Meski dia sangat menginginkanmu. Namun, jangan sekali-kali memasuki kehidupan yang baru bersamanya jika tak ada kesiapan yang matang padanya.  Syaikh Muhammad Barakat memberikan beberapa indikator kesiapan seorang pria untuk menikah. Berikut ini syarat-syarat yang dipaparkan pada buku ‘Pria & Wanita dalam Satu Gerbong’:

Continue reading

Ungkapan Seorang Mualaf Amerika tentang perasaannya setelah masuk islam dan berhijab

“Namaku Thoeha Tasha Haynes Al-Saadawi.  Aku seorang yang bertaubat, aku lahir di Portland Maine, Amerika Serikat. Sekarang, aku tinggal di Lynn, Massachusetts, tapi insya Allah aku akan segera pindah ke Irak (bersama keluarga), karena rumah kami hampir selesai”.

Aku memiliki tujuh anak, lima adalah laki-laki dan dua adalah perempuan. Suamiku bernama Ritha Al-Saadawi.

Ada dua keajadian yang membuat Thoeha merenung

“sehari setelah peristiwa 9/11, seorang pria tua mencoba untuk mendorongku dan aku berusaha menghentikannya untuk menjaga keluargaku (anak-anak)”

“Kemudian, beralih ke peristiwa tentang diet. Semua teman-teman non-muslim ku berlomba untuk diet menurunkan berat badan, dan berteriak (kepadaku) “kamu terlihat cantik, sekarang kamu dapat menggunakan celana jeans dan pergi ke club”.

Continue reading

Kau Yang Mencipta, (aku) Yang Membuat

(1)
Kau ciptakan tanah, aku buat bata
Kau ciptakan samudara, aku buat kapal
Kau ciptakan dingin, aku buat labirin es
Kau ciptakan sakit, aku buat obat
Kau ciptakan masalah, aku buat solusi
(2)
Kau ciptakan salju, aku buat motornya
Kau ciptakan mimpi, aku buat kenyataannya
Kau ciptakan alam, aku buat jalannya
Kau ciptakan telinga, aku buatkan musiknya
Kau ciptakan mata, aku buat bacaannya
(3)
Kau ciptakan air, aku buat minuman
Kau ciptakan udara, aku buat kapal terbang
Kau ciptakan kedalaman laut, aku buat kapal selam
Kau ciptakan ladang, aku tanam padinya
Kau ciptakan ilalang, aku buatkan kertasnya
(4)
Kau ciptakan kesulitan , aku buatkan kemudahan
Kau ciptakan api, aku buat emas
Kau ciptakan mentari, aku buat energy
Kau ciptakan malam, aku buatkan mimpi
Kau ciptakan siang, aku buatkan karya.
Itulah bait-bait tentang penciptaanNya,yang kalau mau dilanjutkan bisa sepanjang-panjangnya. Tapi entah mengapa banyak sekali manusia yang terus saja merasa kurang dan tak pernah mau bersyukur terhadap yang telah diterimanya. Ada bahkan bilang”tak punya apapun” Padahal bila melihat anggota tubuh yang ada, betapa banyak karunia Allah yang telah diberikan padanya.
Mulai dari badan yang sehat dan anggota tubuh yang lengkap, dan kalau mau dihitung nilai setiap anggota tubuh, maka akan bertremu dengan nilai tak terhitung banyaknya, bagaimana membuktikannya? Silahkan datang kerumah sakit, dan lihat orang-orang yang sakit, dan tanyakan berapa dana yang sudah dikeluarkan agar menjadi sehat kembali.
Apa lagi yang sudah punya penyakit parah dan kronis, berapapun akan dibayarnya, agar sembuh kembali. Nyawa yang satu-satunya itu harus dipertahankan, sehingga dana yang keluar bukan lagi persoalan, bagi yang kaya apapun di jualnya, agar sembuh. Ambil contoh singkat berapa dana yang dibutuhakn orang yang cuci darah? Berapa dana yang dbutuhkan saat operasi jantung? Berapa dana penyangkokan hati dan lain sebagainya.
Hitungannya bukan lagi jutaan, tapi puluhan bahkan ratusan juta! Itu baru perkara kesehatan, belum lagi anggota tubuh yang kalau dihitung satu demi satu banyaknya bukan main, dan begitu banyak jaringan dalam tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, di mana setiap anggota tubuh itu mempunyai fungsi masing-masing, yang tidak dapat digantikan satu sama lain.
Sepuluh jari tangan saja sudah luar biasa, belum lagi indera dari mulai mata, telinga, mulut, kulit dan lain sebagainya. Itu baru bagian luar, di bagian dalam lebih komplek lagi, dari mulai usus, jantung, daging, tulang dan lain sebagainya. Salah satu saja sakit, dari anggota tubuh tadi, rasanya kurang nyaman. Apa lagi kalau sudah penyakit komplikasi, penyakit bareng menjadi satu, entah apa  rasanya, masih kurang jelas?
Coba lihat ke luar diri, di alam, air, udara, matahari, pohonan, rumput, salju, hujan, matahari dan lain sebagainya adalah karunia Tuhan yang terhingga. Anda bisa bayangkan,  ada hidung kita,  tanpa ada  udara, apa jadinya? Ada mata, tapi tak bisa melihat? Ada telinga tapi tak bisa mendengar, ada mulut tak bisa berkata, coba hitung itu?  Bukah itu semua nikmat Allah. Dan coba anda bayangkan, kalau kita tak punya kaki, tak punya tangan? Masih kurangkan rezeki Allah itu?
Jadi kalau masih saja mengeluh dan tak mau juga bersyukur ats segala karuniaNya,loh maua kemana kita? Karena sejauh-jauhnya melangkah, hanya kuburan yang ada dihadapan kita. Malaikat maut sedang mengamati kita dan bila waktunya tiba, tanpa bilang “ba, bi, bu… “tiba-tiba nyawa pun melayang. Maka selagi hidup di dunia, mari mencoba dan terus bersukur kepadaNya yang telah membanjiri rezeki yang tak kurang-kurangnya! Jangan lupa,  rezeki Allah itu bukan hanya uang!
Jangan dipersimpit rezeki Allah dengan hanya uang. Pekerjaan, keluarga, sahabat, teman, bisa bergerak, bisa berjalan, bisa duduk,bisa berbaring, bisa istirahat, bisa tidur dan lain sebagainyaitu adalah rezeki Allah SWT. Dan itu lebih terasa ketika anda tak bisa tidur karena ada penyakit, sakit gigi saja misalnya, itu sudah sangat mengganggu tidur. Mau duduk tak bisa, karena ada penyakian wasir, mau berjalan tak bisa, karena kaki lumpuh, mau memegang pun tak bisa, karean tangan tak bisa digerakan walaupun hanya sepuluh senti! Mau buang hata pun susah, karean tak bisa turun dari ranjang dan lain sebagainya. Jadi nikmat Tuhan mana lagi yang mau didustakan?

Inikah Jalan Dakwah?

“Tulislah dan sebarkanlah ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku” (Ja’far ash-Shadiq)

Luar biasa!!! Inilah yang dapat kita ungkapkan terhadap generasi pendahulu kita. Kegigihan dalam proses belajar dengan tradisi membaca dan menulisnya. Kalau kita perhatikan mereka berusaha sekuat baja tak kenal lelah. Sebagai contoh, Ibnu katsir menceritakan, “Pada suatu malam Bukhari bangun dari tidurnya. Setelah menyalakan lampu ia menulis apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kemudian mematikan lampu dan tidur. Setelah beberapa saat ia bangun lagi untuk menulis. Begitu yang terjadi berulang-ulang hingga hampir dua puluh kali.” Dua puluh kali dalam semalam!!! Luar biasa bukan!!! Dan masih banyak lagi. Lantas bagaimana dengan kita? Adakah komitmen kita mengamalkan wahyu kedua “Al-Qalam”? Alladzi ’allama bilqalam ’yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam’?

Continue reading

Dijalan Dakwah Aku Pacaran

Di Jalan Dakwah Aku Menikah, sebuah karya Ustadz Cahyadi Takariawan yang menjelaskan secara gamblang tentang pernikahan yang “benar-benar” menjadikan Islam dan dakwah sebagai dasarnya. Namun kali ini bukan itu yang hendak saya bahas, sedikit berbeda: “Di Jalan Dakwah Aku Pacaran”.

Witing tresno jalaran soko kulino

Ungkapan pepatah jawa ini yang secara garis besar dapat diartikan “cinta tumbuh dari tingginya intensitas pertemuan” berlaku umum, baik bagi masyarakat umum maupun mereka yang mendapat label “aktivis dakwah”. Semuanya sama karena pada dasarnya adalah fitrah manusia yang saling menyukai antara lawan jenis.

Continue reading

Makna Al-Fatihah

Saat membaca surah Al-Fatihah pada waktu shalat, banyak sekali orang yang cara membacanya tergesa-gesa tanpa spasi.

Ini sering terjadi dalam shalat berjamaah. Seakan mereka ingin menyelesaikan shalatnya dgn cepat, padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al- Fatihah, Allah menjawab setiap ucapan kita.

Karena itu, sebaiknya kita harus berhenti setiap selesai membaca satu ayat…

Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah SWT berfirman :

”Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hambaKu”.

”Tiga ayat di atas “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” adalah hak Allah & tiga ayat ke bawahnya adalah urusan hambaNya”.
Continue reading

Semua Adalah Pilihan

“Tak ada yang saya salahkan…,” suaranya mengambang , seakan datang dari negeri yang jauh.” Kecuali diri saya sendiri!”

Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, orange dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.

“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.

“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua –yah, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka–. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe seorang dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabat saya tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.

Continue reading