Jilbab Modis, Idealisme dan istiqomah


Disore yang agak mendung, tiba-tiba seorang mahasiswi yang juga aktivis LDK dipanggil oleh seorang perempuan. Perempuan itu nampak berpenampilan dengan modis ditambah jilbab yang sangat pendek.

Terjadi beberapa jeda pandangan, sang mahasiswi tersebut akhirnya ingat bahwa perempuan yang memanggilnya adalah sosok yang dahulu kala pernah membimbingnya saat mengenal lebih dalam tentang Islam, sehingga mahasiswi ini akhirnya dapat bergabung dalam LDK.

Dengan polosnya, mahasiswi yang masih lugu ini menyampaikan kekagetanya kepada perempuan itu dengan menyampaikan :”ibu sekarang berubah, lebih cantik“. Sang mahasiswi tahu diri juga masa memaparkan kata-kata :”kok jilbab nya pendek“.

Obrolan panjang dari perempuan itu yang sudah mempunyai 3 orang anak ini sangat mengasyikkan. Hingga kemudian perempuan ini juga memaparkan kepada mahasiswi ini akan profesinya yang saat ini disebuah perusahaan yang lumayan bagus dengan penghasilan yang relatif bagus juga.

Disela-sela pembicaraan, dengan nada hati-hati sekali, sang mahasiswi menanyakan : apakah ibu masih sering ikut kajian Ahad pagi di Ustadzah A?” Dengan raut muka sedikit berubah, perempuan tersebut menjawab :”sudah jarang dhe“.

Kemudian dibalas pertanyaan balik dari perempuan tersebut :”sekarang kelas Tahsin nya masih jalan?”.
Dengan sigap sang mahasiswi tersebut menjawab :”alhamdulillah masih jalan bu, mohon doanya agar bisa istiqomah“.

Pembicaraan yang sangat akrab ini akhirnya berakhir, karena sang mahasiswi sudah akan ada agenda LDK lainya dan akhirnya mereka berpisah.

……………………………………

Sejak kejadian tersebut, mahasiswi ini sedikit terbengong-bengong. Bingung mau berkata apa, sosok yang selama ini menjadi teladanya dan sekaligus figur yang selama ini jadi panutanya telah berubah. Sosok yang dahulu pernah mengajaknya ke jalan Allah ini, mengapa telah berubah.

Pergulatan pemikiran yang berkecamuk di dalam dirinya, membuat sang adik ini akhirnya melepaskan uneg-unegnya kepada sang Kakak yang jauh di tanah rantau. Dari kejauhan sang mahasiswi ini memaparkan tentang kejadian yang dialaminya, bagaimana sosok yang dahulu teladan dengan hijabnya yang besar dan rapi, kini telah berubah menjadi modis dan hijabnya pendek banget.

Dari jauh sang kakak menyampaikan bahwa “itulah istiqomah dhe, amat mudah diucapkan, namun berat untuk di kerjakan. Terlebih pada saat hal tersebut menyangkut tentang masalah ekonomi dalam dirinya“.

Lebih lanjut sang kakak menyampaikan bahwa : “bersyukurlah dhe, saat ini masih dalam lingkungan yang sangat kondusif. Halaqoh pekanan berjalan dengan lancar, kajian-kajian menjamur di masjid kampus. Bahkan untuk menambah dahaga ke Ilmuan, adhe juga ikut kelas Tahsin dan Tahfisz. Semuanya berjalan begitu nikmat, saat menapaki langkah-langkah kehidupan ini. Kuatlanlah terus pondasi itu, agar tiba masanya kondisi berubah, prinsip dan keyakinan yang adhe punyai tidak berubah. Tetap Istiqomah

Sang mahasiswi inipun akhirnya betutur dan mengucapkan Istighfar dan memohon kepada Allah: ” Ya Allah, terima kasih atas petunjuk jalan yang telah engkau berikan kepada hamba ini. Hamba mohon dengan sangat agar diri ini diberikan kekuatan agar dapat selalu Istiqomah dijalan-Mu baik dalam keadaan apapun“.

* true story from Kampus Biru Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s