Ungkapan Seorang Mualaf Amerika tentang perasaannya setelah masuk islam dan berhijab


“Namaku Thoeha Tasha Haynes Al-Saadawi.  Aku seorang yang bertaubat, aku lahir di Portland Maine, Amerika Serikat. Sekarang, aku tinggal di Lynn, Massachusetts, tapi insya Allah aku akan segera pindah ke Irak (bersama keluarga), karena rumah kami hampir selesai”.

Aku memiliki tujuh anak, lima adalah laki-laki dan dua adalah perempuan. Suamiku bernama Ritha Al-Saadawi.

Ada dua keajadian yang membuat Thoeha merenung

“sehari setelah peristiwa 9/11, seorang pria tua mencoba untuk mendorongku dan aku berusaha menghentikannya untuk menjaga keluargaku (anak-anak)”

“Kemudian, beralih ke peristiwa tentang diet. Semua teman-teman non-muslim ku berlomba untuk diet menurunkan berat badan, dan berteriak (kepadaku) “kamu terlihat cantik, sekarang kamu dapat menggunakan celana jeans dan pergi ke club”.

“Aku katakan (kepada mereka)  “aku menurunkan berat badan untuk kesehatan, bukan untuk tampil sexy”.

Thoeha merasa risih dengan lingkungan seperti itu, dimana kekerasan dan hidup hedonis ia temui setiap harinya.

“Kemudian aku berbicara kepada diri sendiri “apa yang salah denganku, mengapa aku berada di tengah-tengah orang-orang seperti ini dan aku tidak ingin menjadi seperti mereka!”.

“Bagaimana aku dapat menjaga keluargaku di lingkungan seperti ini dan aku katakan “cukup!” dan kemudian aku pergi ke seorang muslim untuk meminta bantuan. Dia berkata kepadakau untuk membaca Al Qur’an”.

“Maka aku membacanya, aku hanya memikirkan ini (Al Qur’an). Kemudian, aku perlahan lahan melaksanakan ajaran agama ini (Islam) dan masih terus belajar, dan telah memulai menutup aurat”.

Thoeha bercerita bahwa ia kemudian masuk islam setelah beberapa tahun menikah dengan suaminya, setelah mempelajari islam.

“Menjadi seorang muslim adalah sebuah anugrah bagiku tetapi aku melihat beberapa muslimah tidak ingin berbicara kepadaku (memandang sebelah mata –red). Aku selalu mengingatkan mereka untuk tidak menghakimiku karena menjadi seorang mualaf”, Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah membeda-bedakan mereka yang memang dahulunya kafir.

“Apalagi teman-teman non muslim ku yang tidak ingin berada di sekitarku. Sayang sekali, mereka telah kehilangan kesempatan belajar tentang  agama yang hebat (Islam). Aku tidak menangisi mereka, karena tujuanku adala Jannah (Surga),  karena dunia ini hanyalah sebuah ujian dan aku ingin melewatinya, tidak peduli apapun yang terjadi. Allah adalah Hakim ku dan aku sedang berjuang untuk menggapai ridhoNya, bukan untuk menggapai ridho orang-orang kafir”.

***

Saat ditanya tentang perasaannya memakai hijab, “bagaimana perasaanmu ketika memakai hijab?”

Thoeha menjawab dengan bersyair, “ini adalah sebuah puisi yang aku tulis tentang bagaimana yang aku rasakan tentang hijab”

Aku mencintai bagaimana diriku

Aku mencintai bagaimana aku menjadi

Aku mencintai apa yang aku miliki di dalam hati

Aku mencintai apa yang aku miliki di dalam jiwaku

Aku mencintai diriku ketika aku lunak dan lembut

Aku mencintai menjadi seorang wanita berhijab

Aku mencintai berjalan di pasar dengan berpakaian sopan

Aku mencintai bahwa aku seorang muslimah

Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan

Aku hanya peduli apa yang Allah kehendaki untukku

Aku tidak akan pernah merasa aman tanpa hijab

Aku tahu bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik untukku

Aku cinta hijabku, jangan mengambilnya dariku

Thoeha menambahkan, “Hijab adalah bagaimana diriku, hijab adalah jalanku, hijab membuatku aman, hijab menunjukkan aku mendapatkan karunia, hijab menyembunyikan kecantikan luar, hijab baik untukku, aku merasa tidak ada saat aku berjalan tanpa hijab, aku benci diriku tanpa hijab, aku akan merasa hina tanpa hijab. Maka jangan berpikir kalian tahu apa yang terbaik untukku, jangan berpikir bahwa manusia yang membuatku melakukannya (memakai hijab). Salah satu hak asasi adalah aku tidak akan pergi keluat tanpa hijab karena Allah tahu apa yang terbaik untukku, Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak baik untukku. Aku takut akan terjadi sesuatu padaku jika aku keluar tanpa hijabku, maka jangan minta aku melepaskannya!. Aku cinta hijab, Hijab adalah aku!”.

“Hidupku untuk Allah menunjukkan ku cahaya”

***

Demikian Thoeha Tasha Haynes Al-Saadawi bercerita singkat kepada jurnalis.

Subhanallah..sebuah ungkapan tulus dan pesan yang dalam. Meski tinggal di lingkungan mayoritas kafir, keteguhan dan keberaniannya melangkah membuatnya tetap tegar meniti jalan Rabb-nya. Ia tak peduli akan pandangan dan perlakuan orang lain terhadapnya, karena tujuannya adalah Allah.

Sahabat, semoga cerita saudari kita ini dapat menjadi inspirasi dan menjadi penyemangat untuk muslimah yang teguh dalam keislaman dan menutup aurat. Wallahu ‘alam (muslimahzone)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s