Kau Yang Mencipta, (aku) Yang Membuat

(1)
Kau ciptakan tanah, aku buat bata
Kau ciptakan samudara, aku buat kapal
Kau ciptakan dingin, aku buat labirin es
Kau ciptakan sakit, aku buat obat
Kau ciptakan masalah, aku buat solusi
(2)
Kau ciptakan salju, aku buat motornya
Kau ciptakan mimpi, aku buat kenyataannya
Kau ciptakan alam, aku buat jalannya
Kau ciptakan telinga, aku buatkan musiknya
Kau ciptakan mata, aku buat bacaannya
(3)
Kau ciptakan air, aku buat minuman
Kau ciptakan udara, aku buat kapal terbang
Kau ciptakan kedalaman laut, aku buat kapal selam
Kau ciptakan ladang, aku tanam padinya
Kau ciptakan ilalang, aku buatkan kertasnya
(4)
Kau ciptakan kesulitan , aku buatkan kemudahan
Kau ciptakan api, aku buat emas
Kau ciptakan mentari, aku buat energy
Kau ciptakan malam, aku buatkan mimpi
Kau ciptakan siang, aku buatkan karya.
Itulah bait-bait tentang penciptaanNya,yang kalau mau dilanjutkan bisa sepanjang-panjangnya. Tapi entah mengapa banyak sekali manusia yang terus saja merasa kurang dan tak pernah mau bersyukur terhadap yang telah diterimanya. Ada bahkan bilang”tak punya apapun” Padahal bila melihat anggota tubuh yang ada, betapa banyak karunia Allah yang telah diberikan padanya.
Mulai dari badan yang sehat dan anggota tubuh yang lengkap, dan kalau mau dihitung nilai setiap anggota tubuh, maka akan bertremu dengan nilai tak terhitung banyaknya, bagaimana membuktikannya? Silahkan datang kerumah sakit, dan lihat orang-orang yang sakit, dan tanyakan berapa dana yang sudah dikeluarkan agar menjadi sehat kembali.
Apa lagi yang sudah punya penyakit parah dan kronis, berapapun akan dibayarnya, agar sembuh kembali. Nyawa yang satu-satunya itu harus dipertahankan, sehingga dana yang keluar bukan lagi persoalan, bagi yang kaya apapun di jualnya, agar sembuh. Ambil contoh singkat berapa dana yang dibutuhakn orang yang cuci darah? Berapa dana yang dbutuhkan saat operasi jantung? Berapa dana penyangkokan hati dan lain sebagainya.
Hitungannya bukan lagi jutaan, tapi puluhan bahkan ratusan juta! Itu baru perkara kesehatan, belum lagi anggota tubuh yang kalau dihitung satu demi satu banyaknya bukan main, dan begitu banyak jaringan dalam tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, di mana setiap anggota tubuh itu mempunyai fungsi masing-masing, yang tidak dapat digantikan satu sama lain.
Sepuluh jari tangan saja sudah luar biasa, belum lagi indera dari mulai mata, telinga, mulut, kulit dan lain sebagainya. Itu baru bagian luar, di bagian dalam lebih komplek lagi, dari mulai usus, jantung, daging, tulang dan lain sebagainya. Salah satu saja sakit, dari anggota tubuh tadi, rasanya kurang nyaman. Apa lagi kalau sudah penyakit komplikasi, penyakit bareng menjadi satu, entah apa  rasanya, masih kurang jelas?
Coba lihat ke luar diri, di alam, air, udara, matahari, pohonan, rumput, salju, hujan, matahari dan lain sebagainya adalah karunia Tuhan yang terhingga. Anda bisa bayangkan,  ada hidung kita,  tanpa ada  udara, apa jadinya? Ada mata, tapi tak bisa melihat? Ada telinga tapi tak bisa mendengar, ada mulut tak bisa berkata, coba hitung itu?  Bukah itu semua nikmat Allah. Dan coba anda bayangkan, kalau kita tak punya kaki, tak punya tangan? Masih kurangkan rezeki Allah itu?
Jadi kalau masih saja mengeluh dan tak mau juga bersyukur ats segala karuniaNya,loh maua kemana kita? Karena sejauh-jauhnya melangkah, hanya kuburan yang ada dihadapan kita. Malaikat maut sedang mengamati kita dan bila waktunya tiba, tanpa bilang “ba, bi, bu… “tiba-tiba nyawa pun melayang. Maka selagi hidup di dunia, mari mencoba dan terus bersukur kepadaNya yang telah membanjiri rezeki yang tak kurang-kurangnya! Jangan lupa,  rezeki Allah itu bukan hanya uang!
Jangan dipersimpit rezeki Allah dengan hanya uang. Pekerjaan, keluarga, sahabat, teman, bisa bergerak, bisa berjalan, bisa duduk,bisa berbaring, bisa istirahat, bisa tidur dan lain sebagainyaitu adalah rezeki Allah SWT. Dan itu lebih terasa ketika anda tak bisa tidur karena ada penyakit, sakit gigi saja misalnya, itu sudah sangat mengganggu tidur. Mau duduk tak bisa, karena ada penyakian wasir, mau berjalan tak bisa, karena kaki lumpuh, mau memegang pun tak bisa, karean tangan tak bisa digerakan walaupun hanya sepuluh senti! Mau buang hata pun susah, karean tak bisa turun dari ranjang dan lain sebagainya. Jadi nikmat Tuhan mana lagi yang mau didustakan?

Berlaparlah, Jika Merasa Mencintai Allah

Hidupkanlah hatimu dengan sedikit tertawa dan sedikit kenyang dan sucikanlah ia dengan lapar, pasti hatimu menjadi bersih dan lembut.”(Hadis).

Lapar merupakan satu dari cara para sufi untuk melemahkan syahwat atau keinginan-keinginan. Termasuk juga untuk membersihkan hati dan melembutkannya. Mengosongkan perut merupakan jalan untuk menghambat laju keinginan-keinginan/syahwat. Rasulullah selalu mengutamakan lapar daripada kekenyangan, Rasulullah makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tetapi kalau kita rujuk pada sejarah Rasulullah, kita dapat menemukan fakta bahawa Rasulullah banyak laparnya daripada kenyangnya, kalaupun makan Rasulullah tidak sampai kekenyangan.

Tetapi, Kalau kita perhatikan di sekitar kita banyak orang tidak sabar menghadapi cubaan lapar, makanan dan minuman lazat, manusia banyak tergoda dan terjebak, sehingga ada kecenderungan mengabaikan norma agama. Demi makan dan minum orang bertengkar, rasuah, mencuri dan masih banyak lagi usaha manusia yang kotor untuk memenuhi isi perut dan keinginan-keinginannya (Syahwatnya). Orang miskin pun terkadang tidak tahan dengan kemiskinannya, lapar yang ia rasakan tidak dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal Allah menyukai orang-orang lapar, yang dengan kelaparannya itu ia ikhlas dan tetap berusaha tanpa mengeluh dan selalu berusaha berdoa dan mendekatkan dirinya kepada Allah, dijadikannya lapar yang menimpa dirinya sebagai jalan memperbaiki jiwanya, sehingga Allah redha dan berbangga kepadanya.

Continue reading

AKU INGIN DICINTAIMU KARENA ALLAH…

Jika kau mencintaiku karena kecantikanku
Menyejukkan setiap mata yang memandangnya
Kemudian aku bertanya
Saat kecantikan itu memudar ditempuh usia
Seberapa pudarkah kelak cintamu padaku?

Jika kau mencintaiku karena sifatku yang ceria
Menjadi semangat yang menyala di dalam hati mu
Kemudian aku bertanya
Bila keceriaan itu kelam dirundung duka
Seberapa muram cintamu kan ada?

Jika kau mencintaiku karena ramah hatiku
Memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu
Kemudian aku bertanya
Kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka
Seberapa mampu cintamu memendam praduga?
Continue reading

Jangan Ada Dusta Mencintai Allah

Hubbud Dunia (Cinta Dunia). Itulah sebuah judul besar penyakit yang menghinggapi banyak umat hari ini. Eksistensi dunia melebihi eksistensi Allah. Celakanya lagi, bahkan banyak manusia yang sudah merusak fitrahnya sebagai makhluk. Dengan menuhankan dunia. Na’udzubillahi mindzaliq. Semoga hal yang demikian ini terhindar dari diri kaum muslimin dan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang masih meninggikan asma-Nya, dan memuliakan kekasihnya, Muhammadur rasulullahu salallahu ’alaihi wasallam.

Penyakit cinta dunia dan takut mati memang bukan hari ini saja terjadi. Ini adalah kisah dan perilaku yang berulang-ulang. Tentu ingat bagaimana Fir’aun (Ramses II) yang menganggap dirinya Tuhan. Berkuasa penuh atas diri manusia. Tapi, ketika maut menjemputnya (tatkala ia digulung lautan saat mengejar nabi Musa as), barulah ia bermunajat pada Allah swt. Sayang, semuanya terlambat. Hanya saja, tubuhnya hingga kini tetap dijaga oleh Allah, sebagai pelajaran bagi umat di kemudian hari.

Dasar penyakit, cinta dunia hingga kini masih saja terus berulang. Wujud dan bentuknya beragam. Namun, pada prinsipnya, cinta dunia selalu dipicu oleh materi. Sehingga, banyak manusia hari ini berlomba-lomba mencari rezki tanpa mengenal siang dan malam. Kerja keras siang malam, pergi pagi pulang malam, peras keringat banting tulang demi dunia. Sayang, mereka lupa dengan Maha Pemilik Materi, Allah ’Azza wa Jalla. Tak takutkah mereka dengan azab Allah?

Continue reading

Surat Untuk Allah SWT

Duhai Allah… izinkan untaian kata ini tertulis untuk-Mu.

Rabbi… Telah Kau ciptakan kami, manusia menjadi makhluk-Mu yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-Mu yang lain.

Kau berikan kami akal untuk berpikir. Berpikir mengenai segala penciptaan-Mu hingga kami mampu mengenal-Mu darinya. Berpikir tentang indahnya ciptaan Mu yang terhampar luas di alam ini yang darinya kami akan mengenalkan pada anak cucu kami tentang keberadaan-Mu darinya.

Bak karpet hijau terhampar luas hijau daun-daun, pepohonan dan rerumputan itu nampak tak berujung…

Bagaikan akuarium raksasa Kau ciptakan luasnya lautan beserta ikan-ikan di dalamnya

Seperti tiang menjulang tinggi Kau ciptakan gunung itu…

Allah… Kau juga berikan kami hati yang kemudian dengannya kami mampu meyakini keberadaan Mu

Kau juga berikan indera pada kami yang sungguh anggun pada setiap bagiannya. Sempurna ya Allah…

Kau sempurnakan kami dengan rasa malu yang dengannya seharusnya kami benar-benar merasa malu jika harus bermaksiat kepada-Mu.

Continue reading