Kisah Nyata : Vian Sang Mualaf, Tinggalkan Kuliah Hingga Diusir Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Virgiawan Sentosa harus menjalankan puasanya tanpa sahur. Dia hanya menenggak air putih untuk membuat tubuh cekingnya bertahan. Pemuda itu harus berjuang hidup di Pasar Kemiri, Depok, menjual kantong plastik.

Vian, nama sapaannya, baru dua pekan ini resmi menjadi mualaf. Dia mengucap syahadat di Masjid Cut Meutia, Jakarta.

“Aku selalu berpikiran bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampau kekuatan hambanya. Maka dari itu aku selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberi jalan”, ujar Vian, saat diwawancara melalui telepon, di Jakarta, Senin (15/7)

Continue reading

Upgrade Terus Ilmu dan Amalmu Wahai Muslimah

Mengapa Aku Memakai Jilbab Dalam sepekan berapa kalikah Anda datang ke majelis-majelis ilmu wahai saudariku? Sekali, dua kali, tiga kali atau mungkin hampir setiap hari, atau bahkan tidak sama sekali?

Sungguh beruntung saudari-saudariku yang hampir setiap harinya diisi dengan menimba ilmu di majelis-mejelis taklim. Namun, tentunya yang tidak memiliki waktu untuk dapat menyempatkan datang ke majelis taklim karena berbagai kesibukan, entah karena urusan rumah tangga dan anak-anak, atau mungkin karena pekerjaan, janganlah sampai ketinggalan untuk terus meng-upgrade ilmu Anda. Sejatinya tidak ada kata berhenti untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Sekarang ini banyak sumber ilmu yang dapat kita peroleh selain dari majelis taklim, bisa dari buku, internet atau mungkin juga dari sahabat, saudara dan orang tua kita. Belajarlah berbagai ilmu dan keterampilan, dan tentu yang paling utama adalah ilmu agama sebagai dasar dan landasan kita dalam menjalani kehidupan ini. Mengapa belajar atau menuntut ilmu itu sangat penting, karena ilmu dan pengetahuan kita dapat menyelamatkan ummat dan menjadi pintu kita menuju surga.

Continue reading

Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 2)

Bagaimana mengefektifkan peranan keluarga sebagai wahana yang keempat adalah, membina dan menggembleng keimanan bukan hanya tanggung jawab ayah atau suami dan ibu atau istri. Anak-anak pun memiliki kewajiban yang sama terhadap saudara mereka, bahkan terhadap ayah dan ibu mereka. Jika orang tua belum memahami Islam secara benar, anak memiliki tanggung jawab mendakwahi dan mengajari mereka dengan cara yang baik. Jika orang tua masih melakukan aktifitas-aktititas syirik, kufur, atau kemungkaran, maka anak wajib meluruskan dan mencegah mereka dengan cara yang baik.

Continue reading

Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 1)

Setiap keluarga muslim sudah seharusnya menjadi tempat pembinaan iman bagi seluruh anggotanya. Ayah, ibu, suami, istri, anak dan bahkan pembantu rumah tangga sudah seharusnya mendapatkan pembinaan dan penggemblengan iman dalam setiap keluarga muslim.

Setiap muslim yang memahami dien Islam tentu menyadari bahwa keluarga adalah wahana pembinaan dan pendidikan pertama bagi setiap anak, sebelum ia mulai mengenal dan menerima pendidikan dari lingkungan sekitarnya dan sekolah. Pelajaran, nasehat, teladan dan pembinaan yang diterima seorang anak dari orang tuanya mendahului pelajaran yang ia terima dari teman-teman pergaulan dan guru di sekolah.

Dalam hal pembinaan dan perawatan iman anggota keluarga, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota keluarga.

Continue reading

Keimanan, Menjadikan Kebaikan Lebih Bernilai

SAAT itu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) belum beranjak dari kediaman Abu Thalib yang baru saja meninggal. Hatinya masih sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Betapa tidak, paman yang selama ini merawat Nabi sejak kecil dan menolongnya dalam urusan agama ternyata mati dalam keadaan kufur. Saudara kandung ayahnya itu mati sedang Nabi sendiri berada tepat di sampingnya menemani ketika ia mengerang dalam sakarat maut.

Bagi Nabi Muhammad hal ini adalah sebuah pukulan yang sangat hebat. Suatu keputusan takdir yang memerihkan hati siapa pun yang mengalami hal tersebut ketika orang yang dicintai “terpaksa” mati dalam kondisi tidak beriman kepada Allah Ta’ala; Ketika apa yang manusia idamkan rupanya tak sejalan dengan keputusan Sang Pemilik kuasa. Namun di saat-saat seperti itulah Allah datang menyapa kekasih-Nya. Allah menunjukkan kuasa-Nya yang tak seorang pun dapat menolak takdir tersebut.  Allah menegaskan;

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (al-Qashash [28]: 56).
Continue reading

Apa Kabar Imanku Hari ini??

Apa kabar imanku hari ini? tanyaku dg hati2.

“Alhamdulillah bikhoir..” imanku menjawab dg wajah muram.
“Tapi kenapa seperti bersedih?” tanyaku lagi.
“Sayapku terluka,hingga aku tak bisa menjangkau menara istana itu”.
“Istana apa..?”
” Istana Cinta yg berdiri kokoh di seberang lautan rasa. Bukankah kau tahu dimana istana itu,kenapa masih bertanya?”.

Aku tertunduk malu.

Lalu aku bertanya,
“Imanku,bukankah kamu masih bisa terbang? Lihat,lukamupun tidak seberapa?”.
“Ya,tapi aku hanya bisa terbang dan menjangkau pintu gerbang istana itu. Ak tidak mampu masuk kedalam istana pelangi”.

“Kenapa..?” tanyaku penasaran.
“Karena sahabat2 pelangimu melarangku masuk. Karena aku masih terluka,lukaku belum sembuh. Mereka baru mengijinkan aku masuk jika engkau sudah mengobati lukaku sampai sembuh dan bersih..”.

Jawaban imanku membuatku menitikkan airmata.

Continue reading

Jangan Biarkan Imanmu Merapuh..

Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.

Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.

Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.

Continue reading

Harga Sebuah Iman

Iman tak dapat di warisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat di jual beli
Ia tiada di tepian iman
(Raihan)
Seorang anak bisa saja mewarisi sifat dari ayahnya tapi tidak bisa mewarisi  keimanannya. Betapa mahalnya harga sebuah iman, tidak dapat di warisi dan tidak dapat di beli bahkan oleh nyawa sekalipun. Iman tiada berceceran di manapun, karena ia hanya berada di tempat tersembunyi nan suci yaitu di kedalaman hati.
Iman kepada Allah, yakni meyakini bahwasanya tiada Tuhan yang patut di imani dan di sembah melainkan Allah Ta’ala. Pemberian hidayah adalah mutlak hak Allah, namun sebagai hamba hendaknya tertarik pada sebuah keimanan (baca : medekati), bukan pasrah bergelimang dosa tapi mengabaikan setiap nasihat kebaikan yang di sampaikan oleh orang sekitar.