Inikah Jalan Dakwah?

“Tulislah dan sebarkanlah ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku” (Ja’far ash-Shadiq)

Luar biasa!!! Inilah yang dapat kita ungkapkan terhadap generasi pendahulu kita. Kegigihan dalam proses belajar dengan tradisi membaca dan menulisnya. Kalau kita perhatikan mereka berusaha sekuat baja tak kenal lelah. Sebagai contoh, Ibnu katsir menceritakan, “Pada suatu malam Bukhari bangun dari tidurnya. Setelah menyalakan lampu ia menulis apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kemudian mematikan lampu dan tidur. Setelah beberapa saat ia bangun lagi untuk menulis. Begitu yang terjadi berulang-ulang hingga hampir dua puluh kali.” Dua puluh kali dalam semalam!!! Luar biasa bukan!!! Dan masih banyak lagi. Lantas bagaimana dengan kita? Adakah komitmen kita mengamalkan wahyu kedua “Al-Qalam”? Alladzi ’allama bilqalam ’yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam’?

Continue reading

Berbagi dengan Menulis

Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan” (M.Fauzil ‘Adhim, Inspiring Words for Writers)

Menulis adalah hak semua orang, dan apa saja bisa dituliskan. Bahkan saking banyaknya hal yang bisa dituliskan, kita takkan pernah mampu menuangkan semuanya ke dalam tulisan. Menulis, sejatinya merupakan panggilan jiwa. Ya, sebuah panggilan jiwa untuk berbagi. Panggilan jiwa ini, boleh jadi, pada sebagian orang diwujudkan dengan media lisan, ada pula yang mengungkapnya lewat tulisan. Namun, apa pun kemudian medianya, substansinya sama: berbagi.

Seseorang yang ingin berbagi, tentu saja harus memiliki sesuatu untuk dibagi. Sebagaimana ungkapan, “Teko berisi teh hanya akan mengeluarkan teh dan tidak akan mengeluarkan selainnya,”  maka seseorang tidak akan pernah berbagi sesuatu yang tidak pernah ia punyai. Bagaimana mau memberi jika ia tidak punya?

Continue reading

Menulismu Dakwahmu

“Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala” (Sayyid Quthb)

 

Maka saatnya kita tak lagi beralasan untuk tak menyampaikan kebaikan

menulismu adalah dakwahmu
menulismu adalah isi dari fikiranmu
menulismu adalah ladang pahalamu
sampaikan walau satu goresan kata yang kau bisa
bukankah setiap kebaikan adalah sedekah? setiap sedekah adalah berlipat ganda pahalanya disisi ALLAH?
dan setiap pahala berlipat ganda dari ALLAH adalah bekal untuk kita sendiri pada akhirnya?
maka menulis kebaikan adalah sumber pahalamu
mengajak pada kebaikkan adalah senjatamu
tak ada kesulitan dengan menulis
tentara terdepanmu adalah ikhlas, persenjataanmu adalah ilmu dan pena
goreskanlah…
tuliskanlah kebenaran ALLAH dengan kelapangan hati
bukan sekedar untuk dibaca dan di sukai
karena bukan tulisanmu yang merubah manusia
tapi Kekuatan ruhiyahmu karena ALLAH akan sampai melalui tulisanmu sendiri
“barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka” (HR.Bukhori)

Apa yang kau tunggu?
-MENULISMU DAKWAHMU-