Nasihat untukmu Saudariku…

Jadikanlah ghadhul bashar

(menundukkan pandangan) sebagai

hiasan kedua matamu, niscaya akan

semakin bening dan jernih.

Oleskan lipstick kejujuran pada bibirmu,

niscaya semakin manis.

Gunakan pemerah pipimu dengan

kosmetika yang terbuat dari rasa malu.

Pakailah sabun istighfar untuk

menghilangkan semua dosa dan

kesalahan yang kita lakukan.

Rawatlah rambutmu dengan jilbab islami

yang akan menghilangkan ketombe

pandangan laki-laki asing yang

membahayakan.

Pakailah giwang kesopanan pada kedua

belah telingamu.

Hiaslah kedua tanganmu dengan gelang

tawadhu dan jari-jarimu dengan cincin

persahabatan.

Sebaik-baik kalung yang kamu pakai

adalah kalung kesucian

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah,

Ghadhul Bashar (menundukkan

pandangan) dari hal-hal yang

diharamkan memberikan tiga manfaat

besar.

1. Merasakan manis dan lezatnya iman.

2. Hati bercahaya dan firasat tajam.

3. Hati semakin kuat, teguh, dan berani.

 

Ajari Aku Cinta…

Ajari aku cinta karena Allah || Cinta yg bersamamu aku jadi semakin dekat dengan Allah || Cinta yg bersamamu aku jadi semakin mencintai Allah.

Ajari aku cinta untuk Bersabar || agar menemukan kekasih yg benar || yang menuntun hati pada cinta yang sadar || Cinta suci kepada Yang Maha Besar

Ajari aku cinta dalam Diam || Pada kesendirian tanpa sentuhan Haram || Pada kerinduan dalam doa-doa malam || Demi kesucian cinta yg Terpendam.

Ajari aku cinta yang Sejati || Cinta yang tak butakan hati || Cinta yang selalu mengobati || Cinta yang membawa hidup menjadi lebih Berarti.

kata arti dari I.S.T.R.I.

“berikut sikap seorang perempuan yang akan mendapatkan
kunci masuk untuk syurganya atas ridho dan ijin Allah”
.
~mengabdi kepada suaminya itu sudah jadi salah satu
kunci utama untuk masuk syurga~
.
kata arti dari I.S.T.R.I.

Continue reading

Ketika Pangeran Tak Kunjung Datang

 

 

 

 

 

 

 

Sarah, (35), benar-benar telah menyerah terhadap apa yang disebut pernikahan.

“Saya telah melalui fase yang dimulai sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya benar-benar putus asa untuk bisa mendapatkan suami. Saya telah berbicara dengan kerabat yang kira-kira bersedia untuk membantu. Saya telah meminta kepada teman-teman saya yang telah menikah untuk menanyakan apakah suami mereka punya teman sarjana yang memenuhi syarat sehingga mereka bisa bersanding denganku,” katanya sendu.

“Ketika saya memasuki usia 33 tahun, saya telah benar-benar melakukan sesuatu yang saya merasa sangat malu. Saya memasang profil diri saya di situs perjodohan Muslim! Itu merupakan yang pertama dan yang terakhir. Saya merasa begitu sangat malu ketika saya melakukannya, bukan karena orang tua saya tidak mengetahui – mereka bahkan sangat mendorong saya untuk ‘melakukan apa pun sebelum terlambat’ -. Tapi karena saya bertanya-tanya apa yang salah dengan diri saya? “

Continue reading

Kisah Nyata : Vian Sang Mualaf, Tinggalkan Kuliah Hingga Diusir Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Virgiawan Sentosa harus menjalankan puasanya tanpa sahur. Dia hanya menenggak air putih untuk membuat tubuh cekingnya bertahan. Pemuda itu harus berjuang hidup di Pasar Kemiri, Depok, menjual kantong plastik.

Vian, nama sapaannya, baru dua pekan ini resmi menjadi mualaf. Dia mengucap syahadat di Masjid Cut Meutia, Jakarta.

“Aku selalu berpikiran bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampau kekuatan hambanya. Maka dari itu aku selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberi jalan”, ujar Vian, saat diwawancara melalui telepon, di Jakarta, Senin (15/7)

Continue reading

Melintas Badai..

Semoga kisah berikut cukup menarik untuk dijadikan sumber inspirasi sebagai penguat keberanian menjalani kehidupan dan tentunya terima kasih kepada pengarangnya yang telah berkenan berbagi motivasi untuk saling menguatkan  . .

 

Hari itu merupakan salah satu hari penting dalam perjalanan hidup saya yang tidak akan pernah dapat saya lupakan seumur hidup tentang pelajaran sikap hidup yang penuh makna. Pada suatu hari, seperti biasanya kami berkendaraan menuju ke suatu tempat di mana pada kesempatan itu saya-lah yang bertindak sebagai sopir yang sedang mengemudikan kendaraan.  Dan setelah berkendara beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam di atas langit yang mulai gelap datang bersamaan dengan angin kencang menderu dan langit menjadi semakin gelap. Lama-lama secara samar saya dapat melihat ada beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti di pinggir-pinggir jalan yang kami lalui.
Continue reading

Ketika Futur Menyerbu Qalbuku..

Beberapa hari ini hati saya menyusup, menciut dan menyudut. Menyendiri, sedih dan sendiri. Kiranya piala kaca terpecah-belah, maka kepingannya masih kalah menyedihkan dibanding lempengan hati ini. Entah karena kesibukan perkuliahan yang melelahkan, tugas dan amsayah yang kian menekan pundak, atau kondisi tubuh yang sedang sangat tidak bersahabat.

Futur.

Itulah istilah paling tepat yang saya pilihkan untuk menggambarkan keadaan saya belakangan ini.

Kefuturan tengah menghantui jasad dan raja yang menitahkannya (hati). Kerajaan hati saya tengah mengarat dan berkapur. Mengeras dan membeku bagai bangkai Titanic di Altlantik ssaya. Ah, entahlah. Ada apa dengan saya. Makan tak enak, tidur tak enak. Belajar terhambat, menulis tersendat. Tak ada ekstase. Kelindan yang dulu selalu saya rasakan ketika menulis tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Tanpa isyarat dan peringatan.

Ya, beberapa hari lalu saya tengah futur. Mungkin, antum, para pembaca , tak dapat menyangka bahwa saya ‘sedang begitu’, ‘bisa begitu’. Namun rupanya setelah saya berhasil meraih ekstase itu kembali, saya sadar sekali lagi.. Penulis juga manusia, bisa bersedih walau sering memotivasi. Bisa salah walau sering berdakwah. Lalu, ketika manusia memutuskan jadi penulis, adalah konsekuensi ia harus menyetarakan akhlak dan emosinya terhadap apa yang ditorehkannya.
Continue reading

Fitrah KABAD dan COMFORT ZONE

Pernah saat saya mengikuti satu dauroh al-qur’an, ustadz nya mnyuruh peserta menyambung sebuah ayat,

Laqod kholaqnal insanafii….”

Serempak peserta menjawab,

“Ahsani taqwim”

Sang ustadz pun tersenyum. Beliau lalu berkata,
“Semua yg disuruh mnyambung ayat ini rata2 menyambungnya dengan surah at-tin, padahal ada satu surah lagi yang mewakili ayat yang hampir sama, yaitu….

image

Yups, coba perhatikan ayat  ke4, ayat tersebut juga diawali dengan laqod kholaqnal insaana fi..
KABAD
ya, KABAD, alias bersusah payah. Ini yang mungkin sering terlupa.
Sejatinya Allah tlah mnciptakan kita dalam kondisi KABAD, yaitu  bersusah payah, berletih-letih, berpenat-penat, ya itu lah fitrah kita. Ayat ini menjadi motivasi penyejuk saat kita dihadapkan pada segudang tanggung jawab di muka bumi ini. Bahwa sesungguhnya seperti itulah fitrah kita diciptakan.

Dan ayat ini pula menjadi peringatan saat kita terlalu santai, minim tanggung jawab dalam hidup ini, hingga kita punya waktu tidur panjang, dan waktu berleha-leha panjang lainnya. Sama2 kita ingat lg, sungguhnya kita berada pada zona yang keluardari fitrah,ya fitrah KABAD. Astaghfirullah…

Padahal fitrah berlelah2 itu sendiri adalah kunci banyak keajaiban dalam hidup ini. Kunci produktivitas hidup itu sendiri.

image

Kadang saya heran sendiri dengan kondisi iman yang begitu fluktuatif dalam diri ini. Apalagi saat fitrah KABAD tadi sulit sekali saya peroleh “feel” nya.  Apa yang salah ini???!

dan betul seperti kata ust.abd aziz abdurrauf,Lc,  permasalahannya hanya satu,
Interaksi bersama ALQUR’AN yang merenggang.”

Wallahua’lam…