Nasihat untukmu Saudariku…

Jadikanlah ghadhul bashar

(menundukkan pandangan) sebagai

hiasan kedua matamu, niscaya akan

semakin bening dan jernih.

Oleskan lipstick kejujuran pada bibirmu,

niscaya semakin manis.

Gunakan pemerah pipimu dengan

kosmetika yang terbuat dari rasa malu.

Pakailah sabun istighfar untuk

menghilangkan semua dosa dan

kesalahan yang kita lakukan.

Rawatlah rambutmu dengan jilbab islami

yang akan menghilangkan ketombe

pandangan laki-laki asing yang

membahayakan.

Pakailah giwang kesopanan pada kedua

belah telingamu.

Hiaslah kedua tanganmu dengan gelang

tawadhu dan jari-jarimu dengan cincin

persahabatan.

Sebaik-baik kalung yang kamu pakai

adalah kalung kesucian

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyyah,

Ghadhul Bashar (menundukkan

pandangan) dari hal-hal yang

diharamkan memberikan tiga manfaat

besar.

1. Merasakan manis dan lezatnya iman.

2. Hati bercahaya dan firasat tajam.

3. Hati semakin kuat, teguh, dan berani.

 

Ajari Aku Cinta…

Ajari aku cinta karena Allah || Cinta yg bersamamu aku jadi semakin dekat dengan Allah || Cinta yg bersamamu aku jadi semakin mencintai Allah.

Ajari aku cinta untuk Bersabar || agar menemukan kekasih yg benar || yang menuntun hati pada cinta yang sadar || Cinta suci kepada Yang Maha Besar

Ajari aku cinta dalam Diam || Pada kesendirian tanpa sentuhan Haram || Pada kerinduan dalam doa-doa malam || Demi kesucian cinta yg Terpendam.

Ajari aku cinta yang Sejati || Cinta yang tak butakan hati || Cinta yang selalu mengobati || Cinta yang membawa hidup menjadi lebih Berarti.

kata arti dari I.S.T.R.I.

“berikut sikap seorang perempuan yang akan mendapatkan
kunci masuk untuk syurganya atas ridho dan ijin Allah”
.
~mengabdi kepada suaminya itu sudah jadi salah satu
kunci utama untuk masuk syurga~
.
kata arti dari I.S.T.R.I.

Continue reading

Untukmu Yang Selalu Kunanti

Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga merasakannya. Lelah menantimu. Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!

Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan..

“Kapan menikah…..?”

Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran…

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”

Huuf….!!!!

Continue reading

Ketika Pangeran Tak Kunjung Datang

 

 

 

 

 

 

 

Sarah, (35), benar-benar telah menyerah terhadap apa yang disebut pernikahan.

“Saya telah melalui fase yang dimulai sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya benar-benar putus asa untuk bisa mendapatkan suami. Saya telah berbicara dengan kerabat yang kira-kira bersedia untuk membantu. Saya telah meminta kepada teman-teman saya yang telah menikah untuk menanyakan apakah suami mereka punya teman sarjana yang memenuhi syarat sehingga mereka bisa bersanding denganku,” katanya sendu.

“Ketika saya memasuki usia 33 tahun, saya telah benar-benar melakukan sesuatu yang saya merasa sangat malu. Saya memasang profil diri saya di situs perjodohan Muslim! Itu merupakan yang pertama dan yang terakhir. Saya merasa begitu sangat malu ketika saya melakukannya, bukan karena orang tua saya tidak mengetahui – mereka bahkan sangat mendorong saya untuk ‘melakukan apa pun sebelum terlambat’ -. Tapi karena saya bertanya-tanya apa yang salah dengan diri saya? “

Continue reading

Kisah Nyata : Vian Sang Mualaf, Tinggalkan Kuliah Hingga Diusir Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Virgiawan Sentosa harus menjalankan puasanya tanpa sahur. Dia hanya menenggak air putih untuk membuat tubuh cekingnya bertahan. Pemuda itu harus berjuang hidup di Pasar Kemiri, Depok, menjual kantong plastik.

Vian, nama sapaannya, baru dua pekan ini resmi menjadi mualaf. Dia mengucap syahadat di Masjid Cut Meutia, Jakarta.

“Aku selalu berpikiran bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampau kekuatan hambanya. Maka dari itu aku selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberi jalan”, ujar Vian, saat diwawancara melalui telepon, di Jakarta, Senin (15/7)

Continue reading

Kau Yang Mencipta, (aku) Yang Membuat

(1)
Kau ciptakan tanah, aku buat bata
Kau ciptakan samudara, aku buat kapal
Kau ciptakan dingin, aku buat labirin es
Kau ciptakan sakit, aku buat obat
Kau ciptakan masalah, aku buat solusi
(2)
Kau ciptakan salju, aku buat motornya
Kau ciptakan mimpi, aku buat kenyataannya
Kau ciptakan alam, aku buat jalannya
Kau ciptakan telinga, aku buatkan musiknya
Kau ciptakan mata, aku buat bacaannya
(3)
Kau ciptakan air, aku buat minuman
Kau ciptakan udara, aku buat kapal terbang
Kau ciptakan kedalaman laut, aku buat kapal selam
Kau ciptakan ladang, aku tanam padinya
Kau ciptakan ilalang, aku buatkan kertasnya
(4)
Kau ciptakan kesulitan , aku buatkan kemudahan
Kau ciptakan api, aku buat emas
Kau ciptakan mentari, aku buat energy
Kau ciptakan malam, aku buatkan mimpi
Kau ciptakan siang, aku buatkan karya.
Itulah bait-bait tentang penciptaanNya,yang kalau mau dilanjutkan bisa sepanjang-panjangnya. Tapi entah mengapa banyak sekali manusia yang terus saja merasa kurang dan tak pernah mau bersyukur terhadap yang telah diterimanya. Ada bahkan bilang”tak punya apapun” Padahal bila melihat anggota tubuh yang ada, betapa banyak karunia Allah yang telah diberikan padanya.
Mulai dari badan yang sehat dan anggota tubuh yang lengkap, dan kalau mau dihitung nilai setiap anggota tubuh, maka akan bertremu dengan nilai tak terhitung banyaknya, bagaimana membuktikannya? Silahkan datang kerumah sakit, dan lihat orang-orang yang sakit, dan tanyakan berapa dana yang sudah dikeluarkan agar menjadi sehat kembali.
Apa lagi yang sudah punya penyakit parah dan kronis, berapapun akan dibayarnya, agar sembuh kembali. Nyawa yang satu-satunya itu harus dipertahankan, sehingga dana yang keluar bukan lagi persoalan, bagi yang kaya apapun di jualnya, agar sembuh. Ambil contoh singkat berapa dana yang dibutuhakn orang yang cuci darah? Berapa dana yang dbutuhkan saat operasi jantung? Berapa dana penyangkokan hati dan lain sebagainya.
Hitungannya bukan lagi jutaan, tapi puluhan bahkan ratusan juta! Itu baru perkara kesehatan, belum lagi anggota tubuh yang kalau dihitung satu demi satu banyaknya bukan main, dan begitu banyak jaringan dalam tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, di mana setiap anggota tubuh itu mempunyai fungsi masing-masing, yang tidak dapat digantikan satu sama lain.
Sepuluh jari tangan saja sudah luar biasa, belum lagi indera dari mulai mata, telinga, mulut, kulit dan lain sebagainya. Itu baru bagian luar, di bagian dalam lebih komplek lagi, dari mulai usus, jantung, daging, tulang dan lain sebagainya. Salah satu saja sakit, dari anggota tubuh tadi, rasanya kurang nyaman. Apa lagi kalau sudah penyakit komplikasi, penyakit bareng menjadi satu, entah apa  rasanya, masih kurang jelas?
Coba lihat ke luar diri, di alam, air, udara, matahari, pohonan, rumput, salju, hujan, matahari dan lain sebagainya adalah karunia Tuhan yang terhingga. Anda bisa bayangkan,  ada hidung kita,  tanpa ada  udara, apa jadinya? Ada mata, tapi tak bisa melihat? Ada telinga tapi tak bisa mendengar, ada mulut tak bisa berkata, coba hitung itu?  Bukah itu semua nikmat Allah. Dan coba anda bayangkan, kalau kita tak punya kaki, tak punya tangan? Masih kurangkan rezeki Allah itu?
Jadi kalau masih saja mengeluh dan tak mau juga bersyukur ats segala karuniaNya,loh maua kemana kita? Karena sejauh-jauhnya melangkah, hanya kuburan yang ada dihadapan kita. Malaikat maut sedang mengamati kita dan bila waktunya tiba, tanpa bilang “ba, bi, bu… “tiba-tiba nyawa pun melayang. Maka selagi hidup di dunia, mari mencoba dan terus bersukur kepadaNya yang telah membanjiri rezeki yang tak kurang-kurangnya! Jangan lupa,  rezeki Allah itu bukan hanya uang!
Jangan dipersimpit rezeki Allah dengan hanya uang. Pekerjaan, keluarga, sahabat, teman, bisa bergerak, bisa berjalan, bisa duduk,bisa berbaring, bisa istirahat, bisa tidur dan lain sebagainyaitu adalah rezeki Allah SWT. Dan itu lebih terasa ketika anda tak bisa tidur karena ada penyakit, sakit gigi saja misalnya, itu sudah sangat mengganggu tidur. Mau duduk tak bisa, karena ada penyakian wasir, mau berjalan tak bisa, karena kaki lumpuh, mau memegang pun tak bisa, karean tangan tak bisa digerakan walaupun hanya sepuluh senti! Mau buang hata pun susah, karean tak bisa turun dari ranjang dan lain sebagainya. Jadi nikmat Tuhan mana lagi yang mau didustakan?

Inikah Jalan Dakwah?

“Tulislah dan sebarkanlah ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku” (Ja’far ash-Shadiq)

Luar biasa!!! Inilah yang dapat kita ungkapkan terhadap generasi pendahulu kita. Kegigihan dalam proses belajar dengan tradisi membaca dan menulisnya. Kalau kita perhatikan mereka berusaha sekuat baja tak kenal lelah. Sebagai contoh, Ibnu katsir menceritakan, “Pada suatu malam Bukhari bangun dari tidurnya. Setelah menyalakan lampu ia menulis apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kemudian mematikan lampu dan tidur. Setelah beberapa saat ia bangun lagi untuk menulis. Begitu yang terjadi berulang-ulang hingga hampir dua puluh kali.” Dua puluh kali dalam semalam!!! Luar biasa bukan!!! Dan masih banyak lagi. Lantas bagaimana dengan kita? Adakah komitmen kita mengamalkan wahyu kedua “Al-Qalam”? Alladzi ’allama bilqalam ’yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam’?

Continue reading