Beruntunglah Kita Tarbiyah

“BK: Dalam rangka Syiar Dzulhijjah, BK DPD mengadakan musabaqah tilawah 10 hari pertama Dzulhijjah untuk seluruh kader. Tilawah terbanyak mendapat hadiah satu ekor kambing.”

SMS malam itu mengingatkan kami agar tak melewatkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah 1433 H ini. Insya Allah bukan karena memperebutkan kambing jika kemudian kami memperbanyak tilawah lebih dari biasanya. Ada motivasi yang lebih besar, karena bersama SMS itu juga disusulkan taklimat yang panjang lebar menjelaskan Syiar Dzulhijjah: amal-amal apa yang perlu dikerjakan pada hari-hari istimewa ini berikut fadhilahnya.

Inilah salah satu poin keuntungan ketika kita tarbiyah. Ada sistem yang mengingatkan kita. Ada saudara-saudara yang dengan ikhlas membetulkan kekeliruan kita. Ada sahabat yang memotivasi kita. Ada kawan seperjuangan yang saling menjaga. Komunitas perbaikan. Kita mendapatkannya di sini.
Continue reading

Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 2)

Bagaimana mengefektifkan peranan keluarga sebagai wahana yang keempat adalah, membina dan menggembleng keimanan bukan hanya tanggung jawab ayah atau suami dan ibu atau istri. Anak-anak pun memiliki kewajiban yang sama terhadap saudara mereka, bahkan terhadap ayah dan ibu mereka. Jika orang tua belum memahami Islam secara benar, anak memiliki tanggung jawab mendakwahi dan mengajari mereka dengan cara yang baik. Jika orang tua masih melakukan aktifitas-aktititas syirik, kufur, atau kemungkaran, maka anak wajib meluruskan dan mencegah mereka dengan cara yang baik.

Continue reading

Mengefektifkan Peranan Keluarga Sebagai Wahana Pembinaan Iman (bag. 1)

Setiap keluarga muslim sudah seharusnya menjadi tempat pembinaan iman bagi seluruh anggotanya. Ayah, ibu, suami, istri, anak dan bahkan pembantu rumah tangga sudah seharusnya mendapatkan pembinaan dan penggemblengan iman dalam setiap keluarga muslim.

Setiap muslim yang memahami dien Islam tentu menyadari bahwa keluarga adalah wahana pembinaan dan pendidikan pertama bagi setiap anak, sebelum ia mulai mengenal dan menerima pendidikan dari lingkungan sekitarnya dan sekolah. Pelajaran, nasehat, teladan dan pembinaan yang diterima seorang anak dari orang tuanya mendahului pelajaran yang ia terima dari teman-teman pergaulan dan guru di sekolah.

Dalam hal pembinaan dan perawatan iman anggota keluarga, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota keluarga.

Continue reading

Jika Da’wah adalah CINTA..

Cukup bergetar bila sesekali mengingat apa yang pernah Syeikh Tarbiyah ini ucapkan, “dakwah adalah cinta…”. Ternyata lebih jauh dari itu beliau ingin terus ingatkan kita bahwa bukan karena dakwah adalah cinta, sehingga pengertiannya bahwa ia nya kan menggerogoti tubuh kita, setiap energi, dan waktu tak tersisa dengan sia-sia. Lebih, jauh lebih dalam.
Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah paham. Individu itu paham untuk apa ia di sini, apa hakikat jalan ini, sadar dan tahu bahwa inilah jalan para Anbiya. Tak mulus, bahkan menerjang tubuh hingga penuh luka dan darah. Tapi ia paham.
Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah satu bentuk amal berbalut keikhlasan. Karena cinta kepada dakwah inilah yang melahirkan energi dalam jiwa, potensi terpendam, dan lahirlah keajaiban dari rahim cinta. Imannya pun hidup, menyala, terang berusaha menerangi Bumi dengan nilai-nilai yang ia usung. Amalnya mengalir tiap waktu.

Pahlawan itu ada disekitar kita

Malam itu seorang ibu menunggu suaminya pulang dari kerja. Ibu itu cemas karena sampai jam setengah sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Cemasnya bertambah ketika dentang jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Lambat laun kecemasannya berkurang tatkala ia mendengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Disibakkan segera gorden yang menutupi kaca besar disamping pintu. Tak sabar ingin melihat suaminya pulang. Ternyata benar, suara langkah kaki itu milik suaminya. Dibukanya pintu untuk segera menyambut kepulangan suaminya.

Sesampainya di dalam rumah, suaminya mempersilahkan istrinya duduk seraya ia berkata, “Maafkan saya istriku, saya membuatmu cemas. Tadi saya harus menambah penghasilan kita untuk bersalinmu nanti. Sepulang kerja saya gunakan motor kita untuk menarik ojek di dekat kantor. Lumayan bisa nambah-nambah.” Sambil mengelus-elus perutnya yang buncit menjawab,”Saya khawatir terjadi apa-apa. Sudah jam sepuluh cuma kamu belum pulang juga. Kalau saya tiba-tiba mau melahirkan bagaimana?” Dengan penuh bijak suaminya menenangkan istrinya,”Makanya kita harus berdoa terus kepada Allah agar anak kita bisa lahir dengan selamat. Walau saya tidak ada di samping kamu, insyaallah, jika Dia berkehendak maka kamu dan anak kita akan diselamatkannya.”

Continue reading